Jumat, 25 Mei 2012

Minggu, 22 Januari 2012

Sosok Bersahaja KH Baharuddin Pagim (2)

Jabatan Bukan untuk Memperkaya Diri


MENGALIR bagai air, itulah prinsip hidup Baharuddin Pagim. Jabatan dianggapnya sebagai amanah, bukan cara memperkaya diri.

ASWAD SYAM
Makassar

SAAT saya janjian via telepon, Baharuddin Pagim baru saja datang dari Universitas Muhammadiyah Makassar Jl Tala Salapang. Namun, dia mengaku hendak kembali ke Unismuh untuk pengajian dan buka puasa bersama. "Kalau cepatjaki, saya tungguki," ungkap Baharuddin.
Baharuddin memang pria yang super sibuk. Usia, tidak menjadi halangan bagi Baharuddin untuk beraktivitas di organisasi persarikatan Muhammadiyah. Dalam menjalankan kesibukannya, Baharuddin hanya kerap ditemani motor tua, bahkan kadang dia harus menunggu jemputan dari pihak yang mengundangnya untuk ceramah.
Kebersahajaan inilah yang membuat lelaki yang akrab disapa Ustaz Bahar disukai banyak orang, termasuk rekan-rekannya sesama warga persyarikatan Muhammadiyah. Itulah sebabnya, Ia dipercaya sebagai Ketua Pimpinan Wilayah (PW) Muhammadiyah Sulsel periode 2005-2010. Baharuddin memulai karirnya di Muhammadiyah sebagai Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Ujung Tanah, kemudian sebagai Ketua Pimpinan Daerah (PD) Muhammadiyah Makassar.
Sementara itu, di lingkup Departemen Agama (Depag), Baharuddin adalah seorang guru madrasah pada 1963. Kemudian Ia dipanggil masuk ke Kantor Wilayah (Kanwil) Depag Sulsel pada 1984. Selanjutnya, Baharuddin pensiun pada 2000 dengan jabatan terakhir Kasi MTQ dan HBI Kanwil Depag Sulsel.
Di Masjid Hisbul Wathan dekat rumahnya, Baharuddin juga merupakan Ketua pengurus masjid. Kepercayaan masyarakat terhadap Baharuddin tidak dibuat-buat, melainkan berangkat dari jiwa zuhud lelaki kelahiran Wajo, 31 Agustus 1940 ini. Dalam memimpin, Baharuddin mengaku tidak terlalu banyak berpikir. Di Muhammadiyah Sulsel, Baharuddin hanya mengontrol kinerja 13 unsur pimpinan lainnya.
Di lingkungan tempat tinggalnya, Baharuddin juga dikenal sebagai orang yang peramah. Para warga sekitar rumahnya, mengaku tidak pernah melihat Ustaz Bahar terlibat konflik dengan tetangga sekitar. Hal itu juga diakui Baharuddin Pagim. (*)

(Sosok Bersahaja KH Baharuddin Pagim (1) )

Setengah Abad Tinggal Gang Sempit


LELAKI itu adalah orang nomor satu di salah satu organisasi masyarakat terbesar di Indonesia. Namun, kehidupannya tidaklah semegah jabatannya. Dialah Ketua PW Muhammadiyah Sulsel, KH Baharuddin Pagim.

ASWAD SYAM
Ujung Tanah

MENCARI lokasi rumah KH Baharuddin Pagim boleh dibilang sulit. Pasalnya, Jalan Satando dibelah oleh jalan tol. Salah seorang daeng becak yang mangkal di depan RS Angkatan Laut Jala Ammari, yang saya tanya menunjuk ke jalur sebelah. "Di sekitar masjid itu," ujarnya sambil menunjuk sebuah masjid yang hanya kelihatan bagian kubahnya.
Untuk menuju ke arah dimaksud, saya harus berbelok melewati sebuah terowongan. Saya kemudian menanyakan kepada seorang perempuan tua. "Ooo...rumahnya Ustaz Bahar, satu rumah dari masjid, ada lorong, masuk maki di situ," ujar perempuan itu sambil melanjutkan menjahit kerudung hajinya.
Rumah Baharuddin Pagim bernomor 8A, tidak tampak dari luar. Saya harus masuk ke gang yang luasnya sekitar satu meter. Lorong tersebut buntu, panjangnya hanya sekira 20 meter. Ada empat rumah berhadap-hadapan. Di ujung lorong tersebut, terdapat sebuah rumah tembok berwarna pink. Di bagian atas rumah tembok tersebut, juga dibuat ruangan yang berlantaikan papan.
Saat saya masuk, Baharuddin Pagim sedang mengambil air wudhu. Kebetulan saya datang menjelang salat azar. Saya menunggu di sebuah ruang tamu yang luasnya hanya sekitar empat meter persegi. Di sini, bermain empat orang anak yang merupakan cucu Baharuddin Pagim.
Tidak beberapa lama kemudian, seorang lelaki memakai safari, kain sarung dan berpeci keluar. Langkahnya agak sedikit pincang, itulah Baharuddin Pagim. "Saya kemarin lama sekali berdiri saat memantau ujian Unismuh. Terus lutut saya "terkancing". Memang selalu begitu kalau saya lama berdiri," ujar lelaki yang berusia 69 tahun ini.
Berbicara soal rumah tersebut, mantan Kasi MTQ dan Hari-hari Besar Islam (HBI) Kanwil Depag Sulsel ini mengaku menempati rumah di gang sempit itu sejak 1959. Rumah tersebut kata Baharuddin, luasnya hanya 8x5 meter. Di rumah inilah, Baharuddin bersama istrinya Hj Sitti Marhaba membesarkan sepuluh anak-anaknya. "Saya pernah mau pindah dari sini, tapi banyak warga melarang. Mereka meminta saya tetap tinggal di sini. Sejak di sini, saya memang tidak pernah berselisih dengan siapapun," ungkap Baharuddin. (*)

Puisi Rektor UMI Terpendek, Ketua REI Terpanjang

(Catatan dari Baca Puisi Eksekutif Fajar)


PUISI bukan hanya milik mereka yang jatuh cinta, tapi juga milik para pejabat. Tadi malam, 23 tokoh tampilmembacakan puisi sebagai persembahan untuk ulang tahun ke-28 Harian Fajar.

ASWAD SYAM
Makassar

INDONESIA tanah airku, tanah tumpah darahku, di sanalah aku digusur, dari tanah leluhur... Bait-bait puisi berjudul "Indonesia Masihkah Engkau Tanah Airku" karya Husni Djamaluddin tersebut, dibacakan Direktur Utama PT Media Fajar, HM Alwi Hamu sekaligus menjadi pembuka Baca Puisi Eksekutif 2009 tadi malam.
Sebelumnya, Redaktur Budaya Harian Fajar, Basri dengan diiringi Ni'matullah Jaya Musik, tampil membawakan puisi Lelaki Bugis Menombak Langit, sebuah puisi yang didedikasikan Basri kepada keuletan HM Alwi Hamu dalam mendirikan dan membangun Fajar.
Acara yang dipandu Kolumnis Fajar H Fuad Rumi tersebut, bertabur tokoh. Sebanyak 23 di antaranya, tampil membacakan puisi, berturut-turut dari, tokoh perempuan Zohra Andi Baso, Rektor UNM Prof Arismunandar, Ketua PHRI Anggiat Sinaga, Wakil Komandan Lantamal VI Kolonel Laut (P) Riali Sutanto, Legislator Perempuan Tenri Muntu Djabir, Ketua BPD Hipmi Sulsel Ridwan Djabir Patiwiri, Budayawan Ishak Ngeljaratan, Rektor UMI Prof Nasir Hamzah, Kajati Sulsel Adjat Sudrajat, Ny Arfah Mansur Semma (istri almarhum Mansur Semma), Ketua DPRD Sulsel HM Roem, Rektor Universitas 45 Prof Abu Hamid, Pangdam VII Wirabuana Mayjen TNI Djoko Susilo Utomo, PR IV Unhas Prof Dwia Aries Tina NK, Vice President PT Sinar Galesong Pratama Rizal Tandiawan, Kapolda Sulsel Irjen Pol Adang Rochjana, PR III UIN Alauddin Prof Salahuddin Yasin, Ketua DPD REI Jamaluddin Jafar, Pangkoopsau II Marsda TNI Yushan Sayuti, Rektor Unhas Prof Idrus A Paturusi, Walikota Makassar Ilham Arief Sirajuddin, Fuad Rumi, dan terakhir Gubernur Sulsel H Syahrul Yasin Limpo. Puisi-puisi para pejabat tersebut rata-rata mengapresiasi tagline Fajar "Bijak di Garis Tak Berpihak".
Gaya para pejabat tersebut saat membacakan puisi, tak urung mengundang gelak tawa mereka yang memenuhi ruangan lantai dua Gedung Fajar Graha Pena Makassar. Ketua PHRI Anggiat Sinaga yang tampil membawakan "Harian Fajar Bacaan Kita" sangat menghayati puisi ciptaannya. Saking menghayatinya, tubuh Anggiat bergoyang mengikuti irama nada puisi yang dia bacakan.
Puisi terpendek dibacakan Rektor UMI Prof Nasir Hamzah yang berjudul "Biru" yang dia bacakan tanpa teks. Sementara puisi terpanjang dibawakan Ketua DPD REI Sulsel HA Jamaluddin Jafar berjudul "Konglomerat". Menurut Jamaluddin, puisi yang terdiri atas lima halaman tersebut, merupakan karya salah seorang temannya di Surabaya. Puisi Jamaluddin yang bercerita tentang dialog seorang pengusaha kepada anaknya, sempat mengocok perut para undangan yang hadir.
Proses penciptaan puisi juga menarik. Wadanlantamal VI misalnya, puisinya dibuatkan oleh stafnya di Penerangan Angkatan Laut, demikian pula Kajati Sulsel Adjat Sudrajat. "Begitu dapat undangan dari Fajar, saya langsung perintahkan staf untuk membuatkan puisi. Dia tanya temanya apa, saya jawab sudah soal tupoksi aja, maka lahirlah tema Hidup dengan Syukur Jangan Korupsi," ungkap Adjat yang disambut tawa para hadirin.
Lain lagi dengan Kapolda Sulsel Irjen Pol Adang Rochjana. Dia sampai tiga hari tiga malam mengotak-atik puisinya yang berjudul "Fajar dan Polisi". Sementara Pangkoopsau Marsda TNI Yushan Sayuti, sebelumnya mengaku berlatih baca puisi dengan merekam suaranya lewat ponselnya. Pangdam VII Wirabuana, Mayjen TNI Djoko Susilo Utomo, awalnya mengaku hanya bersedia hadir tanpa baca puisi. "Tapi waktu saya baca koran Fajar, saya melihat foto Kapolda sama Pangkoopsau, saya langsung katakan siapa takut," ungkap Djoko.
Sementara itu, Walikota Makassar Ilham Arief Sirajuddn yang paling belakangan datang, mendapat giliran ketiga dari terakhir. Ilham membawakan dua puisi, disusul Fuad Rumi dengan "Pejabat Tinggi", dan ditutup Gubernur Sulsel Syahrul YL dengan "Matahari Terbit dari Timur". "Fajar bukan hanya milik Pak Alwi, tapi merupakan milik kita semua. Sulsel akan menjadi lokomotif pembangunan Indonesia dan Fajar harus menjadi bagian untuk mengkristalisasi komitmen ideal bangsa ini," ungkap Syahrul dalam pengantar puisinya. (*)

Sudah Diincar Perusahaan Penerbangan Malaysia




Siapa cepat dia dapat, siapa telat dia kualat. Itu akan terjadi jika Indonesia lambat merespons karya putra-putra terbaiknya.

Oleh: Aswad Syam

HASIL
modifikasi Automatic Dependent Surveillance Broadcast (ADSB) karya sebelas putra terbaik Indonesia yang tergabung dalam PAS, sebenarnya sudah diincar perusahaan penerbangan asal Malaysia. Namun dengan alasan nasionalisme, PAS belum mau melepasnya.

Ketua tim PAS, Surya Indra di hadapan tim Balai Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), yang datang melihat alat tersebut di Grha Lembang Sembilan Jakarta, Jumat, 16 Desember mengatakan, mereka sudah pernah dihubungi perusahaan penerbangan AirAsia. Namun, tim PAS masih menawarkan alat itu ke pemerintah maupun stakeholder penerbangan di Indonesia. Pasalnya, alat ini sebut Surya, dirakit untuk keselamatan penerbangan di negerinya.  

"Malaysia sebenarnya sudah mengincar alat ini, namun, kami belum mengiyakan, karena menunggu respons dari pemerintah sendiri," jelasnya.

Kemarin, tim dari BPPT yang datang terdiri dari Sekretaris Umum BPPT, Jumain Appe, dan Kepala Bidang Sistem Elektronik BPPT, Mohammad Mustafa Sarinanto. Juga hadir Direktur Eksekutif Institut Lembang Sembilan, Rapsel Ali. Pihak BPPT tampak mengagumi alat yang dimodifikasi tim PAS tersebut. Pihak BPPT kemudian membuka ruang kerjasama dengan tim PAS untuk mengembangkan alat tersebut demi keselamatan penerbangan di Indonesia.

Mustafa sendiri mengakui peralatan penerbangan Indonesia sudah sangat ketinggalan. Baru-baru ini sebut Mustafa, pihaknya membantu Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar untuk mengupdate sistemnya. Menurut dia, server yang digunakan Bandara Sultan Hasanuddin Makassar sudah sangat langka, saking langkanya sudah tidak diproduksi lagi. Kondisi yang sama terjadi di seluruh bandara di Indonesia. "Jadi kalau diupgrade, biayanya sama saja membeli yang baru. Jadi lebih baik beli yang baru," tutur Mustafa.

Dengan keterbatasan alat kita saat ini sebut Mustafa, penerbangan kita dikontrol oleh Australia dan Singapura. Pihak PAS sendiri menjamin, dengan alat yang mereka modifikasi dari AirNav System dan Google Earth, mereka sudah bisa mengontrol balik Australia dan Singapura. "Kita bisa mengikuti pesawat satu-satu," beber Surya.

BPPT sendiri mengaku akan mengundang pihak PAS lebih lanjut untuk membicarakan tindaklanjut hasil modifikasi mereka, juga memetakan industrinya. BPPT lanjut Mustafa, memiliki Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspitek) di Serpong, di sana BPPT memiliki alat yang lengkap untuk melakukan pengujian.

Alat tersebut kata Mustafa, sangat cocok dikembangkan di Papua, apalagi daerah paling timur tersebut saat ini difokuskan untuk pembangunan infrastruktur, khususnya penerbangan. "Pemerintah saat ini akan menggelontorkan banyak dana ke Papua, sekarang kita bisa melihat apa yang bagus dikembangkan di sana, salah satunya teknologi penerbangan untuk mengeliminir kecelakaan pesawat di sana," papar Mustafa.

Pada kesempatan tersebut, Surya memaparkan cara kerja ADSB NextGen. Di pesawat sebut dia, ada yang namanya Flight Management System (FMS). Itu semacam alat yang membuat pesawat terbang secara sistematis. FMS ini memiliki bank data, isinya adalah registrasi pesawat, tipe pesawat, rute pesawat, ketinggian pesawat, kecepatan, posisi dan arah. Di pesawat sebut Surya, ada alat yang namanya transponder. Alat ini sifatnya transmit atau broadcast, jarak broadcastnya 500 nautical miles (NM). Yang dibroadcast adalah frekuensi berisi data dari FMS. Yang diciptakan sebelas tim adalah membuat antena untuk menangkap frekuensi tersebut dan menciptakan sebuah decoder, untuk merubah data, dari frekuensi menjadi data digital. Dan mereka menyiapkan komputer untuk melihat hasil dari data digital tersebut.

Komputerya juga berbeda dengan yang lain, hanya memiliki satu cpu, dengan empat LCD  atau monotir. LCD satu befungsi sebagai fligt data, atau data penerbangan, LCD dua untuk melihat data secara dua dimensi, dan LCD tiga untuk melihat data tiga dimensi, sementara LCD 4 untuk melihat keadaan cuaca. LCD satu dan dua menggunakan software AirNav System buatan Inggris, software ini dibeli secara resmi, dengan harga murah. LCD satu dan dua konek dengan antena. LCD 3 menggunakan Google Earth Pro, untuk mapping atau peta dari Google Earth sistemnya konek dengan internet. Sementara untuk melihat posisi pesawat secara tiga dimensi konek dengan antena. Di LCD 3 ini, kita bisa melihat pesawat dengan ketinggian posisi secara jelas. Tampilan pesawat dalam tiga dimensi ini, didapat langsung dari website airlines.net.

Gambar dari pesawat jelas Surya, terkonvers melalui internet secara otomatis. LCD 4 menyediakan data cuaca menggunakan software Jeppesen konek dengan internet. Data tersebut kata Surya, didapatkan sekitar 30 menit sebelumnya. "Penerbangan Indonesia saat ini, biasanya menggunakan data dua jam lalu, sedangkan Jeppesen menyiapkan data 30 menit sebelumnya, artinya lebih maju dari pembacaan alat yang digunakan saat ini," ungkap Surya.

Data cuaca jelas dia, didapatkan dari Jeppesen WX radar satelit dengan koneksi internet, sehingga bisa melihat arah angin, kerapatan udara, icing (es), turbulance (angin tak beraturan), dan thunderstorm (petir). Antena dirakait secara manual dengan menggunakan produk collins. kemudian dikaitkan dengan flat berbentuk parabola besar untuk menangkap sinyal dari pesawat. "Sinyal inilah yang kemudian ditampilkan di empat monitor ini," kata Surya. (*)

Aktif Perkenalkan Kesenian Sulsel di Kraton Solo


KESENIAN itu universal, seperti halnya musik, orang bisa berkomunikasi lintas budaya dengan seni. Itu dipahami Arly P Sudiyono, sehingga wanita kelahiran Makassar, 27 Juli 1968 ini, membentuk sanggar seni dan menjadikannya alat komunikasi yang erat dengan Kraton Solo.

OLEH: ASWAD SYAM

PENAMPILANNYA cuek, dari gayanya memang sudah menggambarkan bahwa dia seorang seniman. Rambut dikuncir seperti ekor kuda, pakai kacamata. Ngomongnya berapi-api, apa lagi kalau sudah menyangkut nasib rakyat kecil. Tapi jangan salah, dia ternyata adalah seorang pegawai negeri sipil di Lingkungan Kementerian Perindustrian. Namanya, Arly P Sudiyono.

Meski dilahirkan dari pasangan ayah R. Sudiyono SH dari Yogyakarta, dan ibu Hj Emmy Olii dari Gorontalo, namun, darah Makassar kental di dalam dirinya. Logatnya sama sekali tidak mencerminkan daerah asal kedua orang tuanya. Orang tua Arly mamang lama berdinas di Makassar, dan pada saat meninggal, juga minta dikuburkan di Makassar. "Saya anak Indonesia asli dan saya lahir di Indonesia, maka bagi saya kebudayaan manapun adalah milik saya," ujar Arly.

Sejak duduk di bangku sekolah dasar (SD) di Makassar, Arly sebenarnya sudah tertarik dengan kesenian. Dia saat itu sudah berpikiran untuk membuka sanggar seni. Pada saat duduk di bangku SD, Arly aktif sebagai murid dari IKS (Ikatan Kesenian Sulawesi) di bawah pimpinan almarhumah Hj Sitti Aminah Daeng Puji, istri almarhum H Andi Matalatta. Setelah itu , Arly masuk ke Yayasan Anging Mammiri (YAMA) pimpinan almarhumah Ida Joeseof Madjid.

"Jadi dengan bekal itulah, saya berusaha untuk melestarikan tarian kebudayaan Sulawesi Selatan tanpa dikolaborasi," ujarnya.

Arly meninggalkan Makassar sekitar 1998 dan menetap di Jakarta. Karena ada ajakan dari beberapa perupa Yogyakarta untuk join, Arly pun kemudian berangkat ke tanah leluhurnya tersebut pada 2004. Disinilah dia kemudian banyak berkenalan dengan seniman-seniman Yogyakarta. Arly kemudian bergabung dengan Sanggar Watoeboemi milik Mas Wigit,  putra Pangeran Hadikusumo.  

Pada 2006, Arly kemudian menjadi panitia Beber Seni di Yogya, dan saat itu, dia berpikir bahwa itu kesempatan bagi Sulawesi Selatan untuk ikut berpartisipasi dalam acara pembukaan beber seni. Dia kemudian mencoba untuk mencari mahasiswa dan mahasiwi asal Sulsel yang sedang kuliah di Yogyakarta. Arly ke Jalan Mangunsarkoro Gang Rahmat, di sana dia mendapati asrama putri Kepmawa Wajo. Di depan mahasiswa dan mahasiswi asal Wajo tersebut, Arly mengutarakan niatnya untuk mengundang mereka berpartisipasi dalam beber seni. "Dan alhamdulillah mereka ingin ikut berpartisipasi," ujarnya.

Dengan waktu delapan hari, Arly mengajarkan mereka tari-tarian Sulsel seperti Pakarena, Pattennung, dan Ganrang Bulo. Kendalanya waktu itu adalah perlengkapan untuk tarian. Arly kemudian berinisiatif menjual handphone miliknya, juga melego perhiasannya agar bisa membeli perlengkapan tarian tersebut, meski perlengkapan itu tidak asli seperti dari Makassar.

"Saya mendapatkan semua peralatan tarian tersebut di Pasar Bringharjo," bebernya.

Itu merupakan tonggak awal berdirinya sanggar seni yang mereka namakan Sanggar La Tenribali. "Alhamdulillah sampai detik ini sanggar tersebut tetap eksis, walau saya sudah berada di Jakarta kembali. Dan Alhamdulillah, setiap ada event di Yogyakarta, sanggar La Tenribali selalu diminta untuk mengisi acara, termasuk waktu kirab di Kraton Solo," ungkapnya.  

Arly selalu menanamkan kepada mahasiswi di Yogyakarta, bahwa kesenian Sulawesi Selatan tidak kalah dengan kesenian lainnya. Walau berat bagi mereka untuk membagi waktu antara kuliah dan menari, namun dengan kesadaran tinggi mahasiswi Kepmawa Wajo bisa dan selalu berusaha semaksimal mungkin untuk membagi waktu antara kuliah dan latihan menari.

Arly berharap, Dinas Pariwisata Sulsel dan Kota Makassar bisa membantu dalam pengembangan sanggar La Tenribali di Yogya. "Agar kebudayaan kita bisa lebih eksis lagi di kota budaya Yogyakarta. Minimal turis yang tidak sempat singgah ke Makassar, bisa juga menikmati kebudayaan Makassar di Yogya. Dan sudah sepatutnyalah Pemerintah Provinsi Sulsel memberikan penghargaan kepada adik-adik kita mahasiswi yang aktif di sanggar La Tenribali, karena mereka duta budaya dari Sulsel di Yogya," tutur Arly.

Arly menikah dengan Andi Don Jamerro, cucu dari Datuk Sengeng di Sengkang. Dari perkawinannya tersebut, dia dikaruniai tiga orang putra, Ade Devi Dwi Nugroho, Andi Reza Tri SJjamerro dan yang bungsu Andi Septian Eka Prasetyo Jamerro. (*)

Deteksi Pesawat dari Landing hingga Take Off

Alat ini membuat pergerakan pesawat lebih terarah dan bisa menghemat bahan bakar.





Laporan: Aswad Syam, Jakarta

MUSIBAH kehilangan jejak AdamAir di perairan Majene, juga pesawat Cessna yang jatuh di daerah Gunung Ciremai, mengajarkan kita tentang pentingnya teknologi. Andai teknologi Automatic Dependent Surveillance Broadcast (ADBS) sudah ada pada saat itu, puluhan nyawa setidaknya masih ada harapan terselamatkan.

Seperti itulah yang ada di benak saya saat mengamati empat monitor berjajar di dalam ruangan kantor Fajar Group Graha Lembang Sembilan Jakarta. Monitor paling kanan menampilkan data pesawat, monitor kedua data penerbangan dua dimensi, monitor ketiga data penerbangan tiga dimensi, dan monitor keempat menggambarkan pergerakan cuaca. Itulah perangkat alat pendeteksi pesawat yang dimodifikasi sebelas anak muda yang tergabung dalam Tim PAS. Dari situ kelihatan begitu padatnya trafik penerbangan kita di udara. Perangkat itu disosialisasikan tim PAS di depan Komisaris Utama PT Media Fajar, HM Alwi Hamu, Direktur Eksekutif Institut Lembang Sembilan (L9), Rapsel Ali, serta beberapa relasi bisnis Fajar Group.

Idealnya, jumlah pegawai Air Traffic Control (ATC) di Bandara Soekarno Hatta harusnya 400 orang, namun yang ada sekarang hanya setengahnya, 200 orang. Padahal di langit Jakarta, ada banyak pesawat yang siap landing tapi ATC sangat terbatas. Makanya dua penerbangan biasanya ditangani hanya satu orang, sehingga sangat rentan mengakibatkan kecelakaan pesawat.

Selain itu AQO atau radar doppler, harusnya sudah diganti delapan tahun lalu, namun saat ini masih digunakan di Soekarno Hatta, juga di bandara-bandara lainnya di Indonesia. Malah, di Bandara Ahmad Yani Semarang, radar doppler sama sekali tidak ada. Pegawai ATC bandara setempat, mengetahui posisi pesawat hanya lewat radio komunikasi dengan pilot pesawat.

Saat ini, memang PT Angkasa Pura II sementara mengagendakan untuk membeli alat service movement reader dari luar negeri yang harganya Rp44 miliar. Namun, sistemnya hanya di-ground saja. Padahal ada alat yang dimodifikasi sebelas orang anak negeri, dengan harga yang sepersepuluh lebih rendah, dan selain ground juga bisa juga mencitrakan pesawat yang terbang di ketinggian 55 ribu feet.

Ketua tim PAS yang merakit alat tersebut, Surya Indra mengungkapkan, perangkat alat tersebut dinamakan Automatic Dependent Surveillance Broadcast Next Generation (ADSB NextGen). Indra memaparkan, kelemahan radar doppler yang dipakai sekarnag ini, memiliki resolusi terbatas, gambar mentah (raw video), hanya dapat menampilkan dua dimensi, sulit menampilkan tiga dimensi, juga sulit membedakan objek yang berdekatan.

“Juga hanya mendeteksi objek dari logam, dan jangkauan yang pendek hanya 50 Nautical Miles (NM). Dan lebih parah lagi, bisa salah membaca target karena adanya pancaran sinyal-sinyal palsu,” papar Indra.

Indra menambahkan, radar doppler biasanya membaca dua detik satu move. Sedangkan ADSB pergerakan bacaannya satu detik satu move dalam dua dimensi. Sedangkan dalam tiga dimensi, ADSB bisa menampilkan pergerakan pesawat lima detik satu move. Radar doppler sendiri saat ini tidak memiliki tampilan tiga dimensi.

Semua pesawat keluaran terbaru, diwajibkan memiliki transponder. Alat ini berfungsi, menerima sinyal dari satelit yang dipancarkan dari pesawat via GPS. Sistem ADSB juga mengirit bahan bakar, ketika pesawat berpedoman pada radar doppler, dia biasanya harus berputar-putar hingga kurang lebih satu jam dan menghabiskan bahan bakar sekitar 250 kiloliter. Dengan ADSB, pergerakan pesawat akan terarah dan bisa menghemat hingga bahan bakar yang setara dengan 100 unit mobil.

“Sekarang ini kita fokus ke Jakarta, dan ke depan, kita mau buat interkoneksi Jakarta, Makassar, Maluku, dan Papua,” beber Indra.

Dibanding radar doppler, ADSB ini memiliki daya pancar sinyal yang lebih luas. Selain bisa menangkap sinyal pesawat di ketinggian 55 ribu feet, ADSB juga bisa men-cover sinyal pesawat pada luasan 600 kilometer. Kapasitas penyimpanan data bisa 15 tahun karena memiliki kapasitas memori sekitar 10 terabyte. (*)

Bukan Lagi Sekadar di Kasur dan Dapur, Perempuan-perempuan Bajo Pencari Teripang



JAUH dari dapur, perempuan-perempuan Bajoe ikut menentukan kondisi ekonomi keluarga. Caranya, dengan mencari teripang pada malam hari.Seperti Sitti Alang. Dinginnya malam tidak digubris lagi perempuan itu. Dia bersama beberapa perempuan Bajo lainnya.
Bone (Fajar). Jauh dari dapur, perempuan-perempuan Bajoe ikut menentukan kondisi ekonomi keluarga. Caranya, dengan mencari teripang pada malam hari.Seperti Sitti Alang. Dinginnya malam tidak digubris lagi perempuan itu. Dia bersama beberapa perempuan Bajo lainnya.
Mereka tetap membopong tumpukan baskom dan lampu minyak tanah ke perahu yang tertambat di pinggir tanggul Bajoe. Dengan tangannya yang kasar, Sitti kemudian membuka tali pengikat kapal di tiang tanggul.
Sitti mengaku menjalani profesi sebagai pencari teripang sejak puluhan tahun yang lalu. Hasilnya, kata Sitti, cukup lumayan untuk membantu penghasilan suami yang akhir-akhir ini jarang melaut akibat ombak besar.
Mencari teripang hanya dilakukan pada malam hari. Sebab pada saat itulah teripang baru bisa muncul. Mereka, lanjut Sitti, tidak terlalu jauh keluar, hanya sekitar 700 meter dari pinggir tanggul. "Kami hanya mencari sampai di tiang mercusuar itu," ujar Sitti sambil menunjuk ke arah dua tiang gerbang keluar masuknya kapal penumpang Bajoe, Sabtu akhir pekan lalu.
Dalam semalam, rata-rata mereka mendapat satu baskom teripang. Selanjutnya, satu baskom tersebut dijual kepada pedagang pengumpul seharga Rp40 ribu per baskom. Tak jarang, Sitti dan kaan-kawan mengekspor teripang hasil tangkapan mereka hingga ke luar negeri. (aswad@fajar.co.id)

Catatan dari Pameran Foto "Semangat dari Timur" : Membangun Pesan Positif dari Berita Negatif

TIMUR adalah bagian Indonesia yang selama ini identik dengan ketertinggalan. Citra negatif itu ingin dibuang jauh-jauh melalui laporan fotografi.



ASWAD SYAM

KEJENUHAN para penumpang bandara menunggu boarding sedikit terobati dengan hadirnya pameran foto di Exhibition Hall Lantai Dua Bandara Internasional Sultan Hasanuddin. Beberapa penumpang yang sibuk menunggu boarding, menyempatkan diri menyaksikan angle menarik timur Indonesia yang diabadikan para fotografer dari Makassar itu.
Ada 50 foto karya 30 fotografer Makassar dipajang dalam pameran tersebut. Pameran ini digelar Bursa Pengetahuan Kawasan Timur Indonesia (BaKTI) dan Aliansi Jurnalis Independen.
Panitia pameran dari BaKTI, Kiko, mengatakan, melihat foto-foto yang dipamer­kan, tidak sedikit pengunjung yang me­nunjukkan antusiasme mereka. Kelompok fotografer bawah laut dari Jakarta yang mengunjungi pameran pada hari pertama, sangat terkesan dan mengakui keunikan potensi yang dimiliki kawasan timur Indonesia.
Begitupun dua turis dari Amerika yang mengapresiasi praktik cerdas dari Provinsi Gorontalo, juga Manajemen Taksi Mina Bahari. Menurut mereka, upaya peningkatan kesejahteraan nelayan yang dirintis oleh Pemerintah Provinsi Gorontalo ini, sangat menarik untuk dikembangkan di daerah lain di Indonesia.
Kiko menambahkan, sejak merdeka di tahun 1945, masyarakat Indonesia telah menghadapi pahit manis hidup sebagai sebuah bangsa yang bersatu. Begitu pula masyarakat di timur Indonesia. Tantangan pemba­ngunan yang dihadapi masya­rakat di wilayah ini tidaklah sedikit. Selain ketimpangan pembangunan, masyarakat di timur Indonesia juga telah meng­hadapi konflik sosial, isu separa­tisme, bahkan bencana alam. Namun mereka tidak menyerah dalam menghadapi berbagai tantangan pembangunan.
Semangat ini tercermin da­lam 50 foto yang dipamerkan dalam pameran foto bertajuk "Dinamika Indonesia: Sema­ngat dari Timur". Pameran yang diselenggarakan atas kerjasama BaKTI dan AJI bermaksud mengangkat citra positif timur Indonesia yang selama ini ter­puruk akibat pemberitaan media massa. Dalam pameran ini juga diangkat 12 praktik cerdas pembangunan yang dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain di Indonesia dalam menghadapi tantangan pembangunan.
"Selain panorama alam yang indah dan keragaman budaya, sangat sedikit informasi tentang keberhasilan pembangunan dan hal-hal positif lainnya dari KTI. ltu yang ingin kami munculkan dalam pameran ini," jelas Kiko, Senin, 30 November.
Padahal, lanjut Kiko, sangat banyak upaya atau praktik-praktik cerdas yang dilakukan masyarakat di kawasan ini untuk mengatasi berbagai tantangan pembangunannya, namun sa­ngat sedikit informasi mengenai hal ini. Sejak pertengahan tahun lalu, BaKTI memang fokus kepada upaya mengidentifikasi dan mempromosikan berbagai praktik cerdas dari timur Indo­nesia. Sebanyak 12 praktik cer­das dari 12 provinsi di timur Indonesia telah berhasil diiden­ tifikasi oleh BaKTI. Bahkan sudah dipresentasikan dalam pertemuan Forum Kawasan Timur Indonesia, Agustus lalu.
Dalam pameran foto tadi, lanjut Kiko, sedikitnya ada' 30 fotografer yang ikut berpar­tisipasi. Ini menunjukkan, tidak sedikit orang yang menyadari betapa timur Indonesia memiliki banyak hal positif yang perlu dipromosikan.
Kiko menambahkan, Bandara Intemasional Sultan Hasanuddin dipilih mengingat bandar udara ini menjadi titik penghubung ratusan penerbangan per hari menuju dan dari timur Indonesia.
Pada hari penerbangan terpa­dat, sebanyak ribuan penum­pang yang sebagian besar mela­kukan perjalanan tugas, mema­dati bandara ini. Dengan demi­kian, BaKTI berharap pesan dalam 50 foto yang dipamerkan dapat tiba kepada orang-orang yang tepat. (*)

Hadi Ditangkap, KH Djamaluddin Amin Shock


RUMAH bercat hijau lumut milik KH Djamaluddin Amin di Jalan Talasalapang, No 34 Makassar tampak sepi. Sebuah kendaraan Susuki APP krem dan sebuah Toyota Kijang biru, tampak parkir di depan rumah. Sementara itu, toko kelontong yang menggandeng di rumah itu, tetap melayani pembeli.
Saat Fajar datang, tampak seorang wanita separuh baya berjilbab krem, sedang melayani seorang pembeli. Raut wajahnya sedang tidak ceria. Demikian pula seorang wanita usia lanjut berkacamata, tampak duduk agak merenung.
Wanita paruh baya itu, kemudian menanyakan maksud kedatangan Fajar. Saat Fajar mengaku hendak menemui KH Djamaluddin Amin, wanita itu mengatakan kalau mantan Ketua Umum Pimpinan Wilayah (PW) Muhammadiyah Sulsel itu, sedang istirahat dan tidak bisa diganggu.
Wanita itu kemudian masuk ke dalam rumah. Tidak lama kemudian, wanita paruh baya itu keluar bersama seorang wanita berjilbab biru dengan baju yang juga biru. Wanita bernama Jalaliah Jamal itu mengaku anak tertua KH Djamaluddin Amin sekaligus kakak dari Abdul Hadi Djamal, anggota Komisi V DPR RI yang ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Kepada Fajar, Jalaliah mengaku kalau adiknya sengaja dijebak oleh lawan-lawannya yang tidak suka dengan posisinya sekarang. Apalagi, hasil survei terakhir kata Jalaliah, menempatkan adiknya masih teratas di partai.
"Saya kira ini cuma jebakan dari lawan-lawannya, untuk menjatuhkan adik saya," ungkap pengurus Aisyiah ini.
Jalaliah mengaku sangat paham pribadi Hadi. Menurutnya kalaupun ada uang, baik gajinya maupun dari uang perjalanan dinasnya, tidak pernah lupa dia sisihkan ke masjid, juga untuk bantuan sosial seperti orang mau bikin training. "Gajinya memang untuk keluarganya, tapi uang perjalanan dinas, biasanya banyak ke masjid atau ke masyarakat sebagai bantuan sosial," ungkap Jalaliah.
Kasus tertangkapnya Hadi kata Jalaliah, sudah diketahui sang Bapak KH Djamaluddin Amin. Tokoh Muhammadiyah Sulsel itu kata Jalaliah, sempat kaget dan shock. "Beliau ada di dalam, tapi tak mau diganggu, saya saja datang belum ketemu. Beliau kaget dan shock. Bukan shock karena apa, tapi beliau tidak percaya kalau anaknya melakukan itu," ujar Jalaliah.
Jalaliah juga mengaku belum mengetahui persis kasus tersebut, Jalaliah juga mengaku belum mengetahui bagaimana kondisi Hadi, karena sampai saat ini kontak dengan Hadi terputus. Pasalnya, ponsel Hadi ikut disita KPK.
Sebelumnya, KH Djamaluddin Amin, sempat memberikan keterangan kepada wartawan. Djamaluddin Amin berharap, putranya tidak seperti itu. Djamaluddin mengaku menyerahkan kasus putranya kepada Allah. "Yang jelas, saya tidak tahu bagaimana persoalan sebenarnya," ujar Djamaluddin. (asw)

Kisah Asmara Jafar-Hasyiah


Hasyiah Luluh dengan Hadis Nabi

SATU tahun Wakil Ketua DPRD Kota Makassar Jafar Sodding, harus berjuang mendapatkan cinta Hasyiah Amin. Wanita yang kini memberinya empat orang anak.

Laporan: Aswad Syam

ROMANTISME Jafar dan Hasyiah, terlihat saat saya hendak memotretnya. Beberapa kali, Jafar memperbaiki lengan baju istrinya agar lengannya tidak kelihatan. Hasyiah juga tampak tak ragu-ragu bersandar di dada Jafar.
Padahal, jalan Jafar untuk mempersunting Hasyiah tidak mulus. Lamaran Jafar pernah ditolak mentah-mentah oleh Hasyiah, karena belum memiliki pekerjaan dan penampilan Jafar saat itu awut-awutan dan berkulit hitam.
"Dia hampir menyesal menolak saya," ujar Jafar. Hasyiah yang duduk di samping Jafar, tampak tersipu dan mencubit lengan suaminya.
Jafar dan Hasyiah bertemu di Pondok Pesantren Darul Istiqamah Maros. Saat itu, Jafar mengaku datang ke pesantren untuk mengisi jiwanya yang gersang akan pengetahuan agama. Lima tahun mondok di pesantren membuat Jafar nyaris drop out (DO) dari Jurusan Matematika Fakultas MIPA Unhas. Untunglah, salah seorang dosennya terus-menerus mendesak Jafar.
Tinggal di lingkungan pesantren, membuat Jafar tertantang untuk menikah cepat. Pasalnya, setiap hari dirinya selalu diledek oleh teman-teman yang rata-rata sudah menikah. "Saya kemudian sampaikan ke Ustaz Arif Marzuki, pimpinan pesantren sekarang untuk dicarikan jodoh," kisah Jafar.
Ustaz Arif menyanggupi, tidak lama kemudian ustaz menyampaikan kepada Jafar, kalau dia sudah mendapatkan calon yang cocok, dialah Hasyiah Amin. Jafar mengaku sangat terharu dan berbangga karena Hasyiah adalah bintang di pesantren itu. "Boleh dikatakan istri saya adalah idola pesantren, karena di samping pintar, dia juga membantu mengelola asrama putri di sana, boleh dikata, istri saya adalah tulang punggungnya pesantren itu," ujar Jafar.
Tapi Hasyiah menolak. Ustaz Arif juga putus asa dan sempat memberikan alternatif wanita lain kepada Jafar. Namun, penolakan Hasyiah justru membuat Jafar tertantang, meski Jafar tak pernah melihat wajah Hasyiah. Melalui temannya, Ustaz Patombongi (anggota DPRD Maros sekarang, red) dan istrinya, Jafar terus melakukan upaya lobi, karena istri Ustaz Patombongi merupakan teman karib Hasyiah. "Saya terus meminta informasi terkait kegiatan Hasyiah dan bagaimana pribadinya," ujar Jafar.
Satu tahun Jafar berjuang. Hasyiah baru luluh setelah ustaz-ustaz di Darul Istiqamah memberitahukan salah satu hadis nabi, bahwa jika ada lelaki yang datang dengan baik-baik tapi ditolak tanpa alasan jelas, maka hati-hati akan fitnahnya. Usai ijab kabul, Jafar mengaku baru melihat wajah Hasyiah pertama kalinya. "Ada rahasia yang harus saya sampaikan kepada adik-adik yang belum menikah, bahwa menikah tanpa pacaran sangat indah, saya dan istri saya sampai sekarang masih seperti orang pacaran," ungkap Jafar.
Usai menikah, Jafar tinggal di rumah om, tapi itu tidak lama. Jafar kemudian menyewa rumah, dan dia memulai dari nol besar, pasalnya keduanya belum memiliki penghasilan. "Saya kemudian memboyong perlengkapan saya dari pondokan ke rumah kontrakan, seperti kasur, dan kompor," ungkap Jafar.
Jafar mengaku sangat bangga terhadap pribadi istrinya, karena sampai saat ini dia tidak pernah membebani Jafar di luar kemampuannya. "Satu hal juga yang membuat saya menganggap dia malaikat saya, setiap pulang ke rumah membawa uang dia tidak gampang menerima, pasti dia tanya asal uang itu. Dia melarang saya membawa pulang ke rumah uang yang tidak halal," ungkap Jafar.
Dari perkawinannya, Jafar dikaruniai empat anak, masing-masing, Ulfah Saidah, Ahmad Muaffaq, Suhaidah Karimah, dan Faizal Adilah.

Jalan Pattene Seperdua Kilometer



* Infrastruktur Perbatasan yang Terabaikan

TIDAK enak tinggal di kawasan perbatasan, kita akan selalu menjadi warga kelas dua. Tidak terkecuali, warga Makassar yang tinggal di sepanjang 500 kilometer Jalan Pattene, sebuah kawasan yang membatasi Kota Makassar dan Kabupaten Maros.

ASWAD SYAM, Biringkanaya

SUDAH bertahun-tahun, lubang jalanan yang memenuhi Jalan Pattene, menggoyang setiap pengendara yang melewatinya. Sekian itu pula, tak ada perhatian dari pemerintah. Pengguna jalan tersebut tak punya alternatif melangkah dengan nyaman, karena lubang tak memberi kesempatan.
Seperdua kilometer panjang jalanan dari arah Jalan Tol Ir Sutami ke arah Pattene adalah milik Makassar, selebihnya mulai dari jembatan adalah milik Maros. Namun, lubang-lubang hanya memenuhi seperdua kilometer itu, setelah melewati jembatan yang menjadi batas wilayah, kita akan disuguhi jalanan beton yang mulus buah karya Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Maros kepada warganya.
Apa yang diperbuat Makassar? Tak ada. Inisiatif wargalah yang kemudian menutupi lubang jalanan tersebut dengan timbunan tanah. Namun, itu tak banyak menolong, saat hujan mengguyur, timbunan itu, justru semakin memperparah kondisi jalan. Lubang-lubang semakin menganga lebar.
Anton, salah seorang warga yang sering melewati jalanan tersebut mengungkapkan, jalanan itu sudah bertahun-tahun tak diperhatikan. Menurut Anton, pemerintah Makassar ogah memperbaiki jalanan tersebut karena yang sering melewati setiap hari adalah warga Pattene yang notabene warga Maros. Sementara pemerintah Maros tentu saja tidak memperhatikan, karena bukan wilayahnya.
"Saya pikir, lebih baik kawasan ini proses pembangunannya diambil alih provinsi. Karena kalau Makassar mau diharap, tenami," ujar Anton dengan logat Makassar.
Beberapa tukang ojek juga mengeluh. Pasalnya, jalanan tersebut sering mengincar onderdil motor mereka, sehingga anggaran pemeliharaan motor sebagai alat utama mereka mengais rezeki juga terkuras. Tentu saja, itu akan menggerus penghasilan mengojek mereka setiap hari.
Berta misalnya, mengaku hampir setiap minggu mengalami bocor ban. "Bayangkan, setiap dua minggu saya harus ganti ban dalam, karena jalanan berlubang ini," ungkap Berta.
Dg Rahim, salah seorang warga Pattene mengungkapkan, usia aspal di jalan itu sudah mencapai sepuluh tahun. "Seingat saya, terakhir itu diaspal pada 1999 lalu. Sejak itu, tidak pernah dibangun kembali," ujar Dg Rahim.
Bagaimana Pemkot Makassar melihat ini? Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kota Makassar, Ridwan Muhadir yang dihubungi tadi malam mengungkapkan, kemungkinan Jalan Pattene belum dibangun tahun ini. Pasalnya, anggarannya belum ada di APBD 2009. Apalagi, Ridwan mengaku anggarannya banyak sekali dipotong untuk tahun ini.
Ridwan menyarankan agar masyarakat membawa kasus rusaknya Jalan Pattene tersebut ke ajang musyawarah rencana pembangunan (Musrembang) tingkat kecamatan. "Karena semua pembangunan berawal dari sini, nanti kita dikomplain kalau tidak pernah dibicarakan di Musrembang tapi dianggarkan," ujar Ridwan.
Menurut Ridwan, karena jalanan terusannya dibuat dari beton, maka untuk mengimbanginya, jalanan sepanjang 500 kilometer itu, juga harus dari beton. (*)

Komunitas Cycle Sulawesi Indonesia, Bersepeda Keliling Sulsel (2-Selesai) /Kecam Travel Warning ke Indonesia/


COLIN FREESTONE merasa Indonesia, khususnya Sulsel, adalah wilayah yang aman. Untuk itu, warga Australia ini sangat menyesalkan pemberlakuan travel warning oleh pemerintahnya terhadap Indonesia.

PADA dekade 1960-an, O.G Roeder pernah menulis buku berjudul Indonesia born to smile yang artinya orang Indonesia dilahirkan untuk tersenyum. Keramahan Indonesia yang dirasakan Roeder, juga ikut dirasakan Colin. Menurutnya, selama 40 tahun melanglangbuana di Indonesia, dirinya selalu merasa aman berada di tengah-tengah masyarakat Indonesia yang murah senyum.
"Bagi saya pribadi, saya sudah keliling ke beberapa negara, dan Indonesia adalah negara yang penduduknya paling ramah. Kalau saya khawatir di negeri ini, bagaimana mungkin saya berani mengadakan tur sepeda di sini dengan mengundang teman-teman saya," ungkap Colin saat ditemui di lobi hotel MGH.
Tur sepeda yang dilakukan Collin, tidak lebih untuk menginformasikan kepada rekan-rekan senegaranya, juga rekan-rekannya sesama bule, bahwa Indonesia adalah negara yang aman. Sehingga pemberlakuan travel warning Pemerintah Australia kata Collin adalah sesuatu yang berlebihan.
Colin mulai menginjakkan kakinya ke Sulsel pada tahun 1969. Kemudian 1995, dirinya kembali ke Sulsel dan membantu menjembatani pertukaran mahasiswa IKIP (sekarang UNM, red) dengan Lecture University di Australia. Colin sendiri saat ini memiliki kantor di Jakarta, pria yang hobi berkebun dan punya kegemaran beryoga ini, juga menggalang kerjasama dengan pihak Departemen Kesehatan RI. Atas dasar itu, Collin mengaku mengetahui betul bagaimana situasi Indonesia yang sebenarnya.
Dalam penjelajahannya ke jazirah selatan Sulawesi, Colin senantiasa mendapati keramahan masyarakat. Colin mengaku sering ditawari menginap di rumah warga. Pernah suatu ketika lanjut Colin, dirinya bersepeda dari Sengkang ke Palopo, saat tiba di daerah Siwa, Colin tersandung balok kayu yang sengaja dipasang warga di tengah jalan untuk batas baruga pengantin. Saat itu kata Colin, kakinya sempat mengalami luka terbuka.
Colin kemudian dipapah ke rumah salah seorang warga, dan oleh warga setempat, Colin dipanggilkan seorang bidan. "Kaki saya dijahit lima jahitan. Saat itu saya merasa sangat terkesan dengan masyarakat Sulsel," ungkap Colin.
Januari sengaja dipilih Colin karena bertepatan dengan musim hujan. Menurutnya, bersepeda di kala hujan lebih bagus daripada saat kemarau. Colin juga sengaja memilih rute dengan jalanan menurun dan menanjak, menurutnya, jalanan menurun meningkatkan adrenalin. "Daripada ke Dufan (Dunia fantasi Ancol, red), mending lakukan tur. Kita bisa meningkatkan adrenalin secara gratis," ungkap Colin.
Selain untuk menyatu dengan alam, tur sepeda kata Colin juga bisa meningkatkan kesehatan terutama jantung. Selain itu, bersepeda akan menjadikan udara sekitar bersih dan bebas polusi. "Saya kira, dengan harga BBM yang kian meningkat, terlalu bodoh kita jika tak beralih ke sepeda sebagai kendaraan alternatif," papar Colin.
Sekira pukul 11.00 Wita kemarin, Colin, Richard, David, Theresa, Joel, Merek, Vera, Salik, Neo, serta 21 rekan lainnya memulai start untuk tur Sulsel di depan MGH. Selanjutnya, mereka akan menempuh rute 1.200 kilometer melintasi Makassar, Takalar, Bulukumba, Sinjai, Watampone, Wajo, Palopo, Tana Toraja, Enrekang, Sidrap, Parepare, Barru, Watang Soppeng, Maros, dan 27 hari kemudian, Colin dan kawan-kawan, akan kembali finish di Makassar. "Kita akan bermalam satu hari di setiap kota, kecuali di Takalar dua malam, di Wajo dua malam, dan di Tator empat malam. (*)

Melirik Komunitas Cycle Sulawesi Indonesia (1) /Berawal dari Penguatan Hubungan Ayah-Anak/

PULUHAN bule yang tergabung dalam Cycle Sulawesi Indonesia, tampak berkumpul di lobi Makassar Golden Hotel (MGH). Mereka sibuk membicarakan rencana perjalanan keliling Sulawesi Selatan yang akan start di depan MGH pagi ini.












DIDAMPINGI Marketing and Communication Makassar Golden Hotel (MGH), Pramita Novi Hermawati, di sebuah lobi, Organiser and Leader Cycle Sulawesi Indonesia, Colin Freestone, tampak lancar menjawab pertanyaan saya dengan bahasa Indonesia. Maklum, istri Colin berasal dari Nangroe Aceh Darussalam bernama Cut Hadisah. Dikaruniai seorang anak bernama Rendra.
Lelaki yang berumur sekira 50 tahun itu, sangat antusias menjawab pertanyaan saya soal hobinya naik sepeda. Menurutnya, semua itu berawal pada 2000 lalu. Dia dan anaknya Rendra, naik sepeda dari Makassar ke Tana Toraja. Itu kata dia, untuk menguatkan hubungannya dengan putranya, Rendra, yang saat itu sementara renggang.
Dalam perjalanannya, Colin mengaku sangat mengagumi Indonesia, khususnya Sulsel. Masyarakatnya yang ramah, dan polos, juga dengan keindahan alam yang dimiliki. Colin mengaku sangat menikmati perjalanan turnya bersama Rendra, tidur di lumbung padi warga Toraja, istirahat di kedai pinggir jalan, serta mandi di sungai, suatu hal yang menurut Colin tidak pernah dia dapatkan di Australia, tanah kelahirannya. "Apalagi saat kita keringatan, kemudian berdiri di bawah air terjun, suatu kenikmatan yang tiada tara," ujar Colin.
Dalam perjalanannya tersebut, Colin mengaku banyak mendapat pengalaman mengenal adat-istiadat di Sulsel, termasuk keanekaragaman budaya dan keindahan alamnya, seperti rumah adat di Batubatu Soppeng, air panas di Lejja Soppeng, tenun sutera di Sengkang Wajo, serta air terjun di Bantimurung.
Colin, kemudian menuangkan kisah perjalanan turnya bersama Rendra ke dalam sebuah situs www.cycleindonesia.com.au. Ternyata situs tersebut, direspons banyak bule, mereka tertarik untuk menggelar perjalanan serupa. Colin kemudian melihat peluang itu, dia kemudian merancang sebuah tur untuk mengakomodir ketertarikan bule-bule yang rata-rata dari Australia, Amerika Serikat, dan Bali.
Hasilnya, 24 bule menyatakan keinginannya untuk ikut. "Keseluruhan ada 30 orang, 24 peserta, dua panitia, dan enam teknisi," ujar Colin. Untuk persiapan turnya, Colin terlebih dahulu melakukan survei dengan rute, Makassar, Bira, Sinjai, Bone, Sengkang, Palopo, Tator, Enrekang, Watang Soppeng, Camba, dan Bantimurung. Termasuk tempat-tempat makan di setiap lokasi. Colin kemudian merancang tur keliling Sulsel 1.200 kilometer dengan waktu 27 hari.
Tidak tanggung-tanggung, dalam turnya kali ini, Colin juga menyertakan seorang insinyur sepeda dari Australia. Dia juga bekerjasama dengan Roda Link selaku penyedia spare parts. Soalnya, untuk hobinya tersebut, tidak sembarang menggunakan sepeda. Ada sepeda khusus yang digunakan, Colin menyebutnya, "Bike Friday". Harganya di kisaran Rp 15 juta hingga Rp 40 juta.
Selain itu, Colin juga membawa peralatan P3K. Kebetulan kata dia, dalam peserta tur tersebut ada seorang dokter, selain itu, Rendra putranya juga seorang ahli akupuntur. "Jadi kami tidak khawatir kalau soal kesehatan," ungkap Colin dengan nada sedikit cadel. (*)

Wajah Sangar Buat Penumpang Usil



WANITA berperawakan ceking itu, berada di antara kerumunan lelaki di sebuah pangkalan ojek, ujung Jalan Pattene Kelurahan Sudiang Kecamatan Biringkanaya. Dia bukan penumpang, dia seorang tukang ojek.

Laporan: Aswad Syam
SUDIANG

ROBERTA baru saja datang, dia memarkir motor Honda Revo silver DD 3216 AW pada deretan kedelapan di pangkalan ojek Tunas Jaya Jalan Pattene. Tujuh motor sudah parkir sebelumnya. Artinya, saat itu, wanita berusia 59 tahun asal Palembang ini, berada pada giliran kedelapan untuk mengangkut penumpang yang akan masuk ke kampung Pattene.
Mengenakan jaket levis biru, Berta, panggilan akrab Roberta, duduk istirahat di balai-balai membelakangi tukang ojek lainnya yang sibuk bermain halma. Saat saya mendekat, Berta kemudian berdiri. "Mau ke mana pak,?". Saya kemudian menjelaskan kalau dari Harian Fajar. "Maaf, saya kira penumpang," ujarnya sambil memperlihatkan barisan giginya yang tampak rapi.
Berta mengaku sudah dua tahun menggeluti profesi tersebut, sebelumnya, Berta sempat berjualan, namun, kemudian bangkrut. Nenek bercucu satu ini, melihat prospek penumpang yang keluar masuk Pattene cukup besar, dia kemudian menyicil sebuah motor untuk dia gunakan mengojek. Untuk pekerjaan, Berta berprinsip tak ada gengsi selama pekerjaan itu halal. Namun, motor tersebut dia berikan ke putranya yang bekerja sebagai buruh bangunan.
"Motor Revo itu saya sewa, Rp 20 ribu per hari," ujar Berta sambil menunjuk ke arah motor Revo silver yang terparkir.
Setiap harinya, Berta mengaku mendapat penghasilan Rp 40 ribu, namun, Rp 20 ribu harus dia bayarkan untuk sewa motor. "Ya lumayanlah untuk beli beras buat makan cucu saya," katanya. Meski perempuan, Berta mengaku tidak risih bekerja di antara pria. Selama dua tahun menggeluti profesi tukang ojek, Berta belum pernah diusili penumpang yang rata-rata kalangan pria.
"Kalau ada penumpang yang sedikit urakan, saya biasanya pasang wajah sangar, alhamdulillah, sampai saat ini belum pernah ada yang jahil," ungkapnya.
Berta mengaku kerap mengantar penumpang hingga ke Barru. Menurutnya, tarif penumpang hingga ke Barru, dia patok Rp 80 ribu pulang pergi. Selain untuk kebutuhan sehari-hari, penghasilan ojeknya, sebagian dia sisihkan untuk membayar kontrakan rumah di Puri Pattene Permai sebesar Rp 1,5 juta per bulan.
Suami Berta bernama Simon, juga bekerja sebagai buruh bangunan. Dulu, Simon adalah seorang anggota Brimob, namun karena ada masalah, Simon kata Berta, memilih mengundurkan diri. "Suami saya kemudian menjadi Satpam, tapi gajinya hanya Rp 250 ribu. Itu tidak cukup, makanya saat itu saya bantu menjual kue. Suami saya kemudian banting setir jadi buruh bangunan, dan kehidupan kami agak lebih baik," beber Berta.
Berta mengaku ingin kembali berjualan, namun, dirinya terbentur pada masalah modal. "Seandainya ada yang bisa meminjami saya modal, saya ingin sekali berjualan kebutuhan sehari-hari," kata Berta. (*)

Anak Saya Harus Jadi Guru



"CUKUPMI saya yang kerja begini, anak-anak saya harus jadi guru," Demikian ungkapan yang keluar dari mulut Erna, salah seorang kuli bangunan di bilangan Jalan Masjid Raya, kemarin.

ASWAD SYAM, Bontoala

ERNA terus menarik tali plastik yang pada ujungnya dikaitkan karung nilon berisi pasir. Sesekali, dia menghentikan tarikannya dan menyeka keringat yang mengucur di dahinya. Karung nilon tersebut bergelayut menuju lantai dua sebuah bangunan yang dipersiapkan untuk ruko. Di atas, salah seorang kuli perempuan lainnya, Nasra, mengambil karung nilon berisi pasir tersebut, dan melepaskannya dari kaitan.
Pekerjaan tersebut kata Erna, dilakukan setiap hari. Menurut Erna, selain dirinya, ada delapan perempuan lainnya yang bekerja sebagai kuli bangunan. Pekerjaan mereka termasuk berat, ada yang menyekop pasir ke penapis yang terus digerakkan maju mundur oleh dua perempuan, ada yang mengangkat beban pasir, serta ada yang mencampur pasir dan semen.
Sementara, beberapa kuli bangunan lelaki, hanya sibuk memplester dinding batu bata dengan semen. Menurut Erna, dia dan suaminya, Abdul Harmin, bekerja di bangunan tersebut. "Saya dan suami, sudah beberapa tahun menjadi kuli bangunan, saya juga pernah bekerja di rumah sakit Daya," ujar perempuan yang mengaku tidak tamat SD ini.
Dari hasil keringatnya, Erna mengaku digaji setiap minggu sebesar Rp 150 ribu. Uang tersebut kata dia ditabung untuk bekal sekolah anaknya. Erna memiliki tiga anak, semuanya perempuan. Yang paling sulung kata Erna, baru masuk taman kanak-kanak. Erna bertekad agar anaknya bisa sekolah, tidak seperti dirinya.
Dia khawatir, kalau anaknya tidak sekolah, nanti nasibnya akan seperti dirinya menjadi kuli bangunan. Erna mengharapkan anak-anaknya bisa menjadi pegawai negeri, semisal guru. "Saya dulu bercita-cita jadi guru, tapi akhirnya jadi begini karena sekolah terputus. Anak saya tidak boleh putus sekolah, mereka harus menjadi guru," ujar Erna sambil mengulur tali plastik setelah mendapat aba-aba dari Nasra di lantai dua.
Erna mengaku sudah terbiasa mengangkat beban berat. Dia terpaksa menjadi kuli bangunan, karena tak ada pekerjaan lain. Apalagi, dirinya hanya berhasil menduduki bangku sekolah sampai kelas lima SD. Perempuan bermata agak sipit ini, mengaku terpaksa putus sekolah, karena orang tuanya tidak memiliki dana yang cukup untuk menyekolahkan dirinya. Cita-citanya menjadi tenaga pendidik pun akhirnya buyar.
Kisah itu kata Erna, tidak akan dibiarkan terulang kepada tiga putrinya. Untuk itu, Erna dan suaminya bekerja keras mengumpulkan rupiah untuk dana pendidikan anak-anaknya kelak.

Minggu, 15 Januari 2012

Pertemuan Bugis-Jawa di Catwalk Bapindo Plasa

GENDING Jawa mengalun pelan. Sesekali terdengar suara dentuman gong. Tiba-tiba musik mengalun dengan ritme cepat, diikuti suara pui-pui (instrumen musik tradisional Sulsel) yang semakin lama semakin memekakkan telinga. Namun orang-orang di dalam Bapindo Plasa, tidak banyak terganggu. Bahkan mereka terkesan menikmati, apalagi, di atas catwalk beberapa wanita cantik hilir mudik, membuat mata para penonton tidak berkedip. Mereka menelisik setiap langkah, juga detail rancangan busana para model dalam peragaan busana sutera Bugis di Bapindo Plasa, Kamis, 13 Oktober malam. Yang istimewa, model-modelnya bukan hanya lokal, tapi juga ada beberapa model bule.

Peragaan busana tersebut dihadiri Gubernur Sulsel, H Syahrul Yasin Limpo, Kadis Perindustrian dan Perdagangan Sulsel, Irman Yasin Limpo, Kabid Promosi Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah (BKPMD) Sulsel, Sukarniaty Kondolele, serta Kabag Humas, Agus Sumantri. Tidak ketinggalan Puteri Pariwisata, Andi Gusti Harnum Tenri Natasya.

Bahan dan corak busana yang diperagakan para model, berasal dari Sulawesi Selatan. Kain tenun itu dari empat daerah sentra sutera Sulsel, Wajo, Soppeng, Enrekang, dan Sidrap. Bahan-bahan kain sutera yang diproduksi dengan alat tradisional tersebut, menjadi semakin indah di tangan dua desainer kenamaan Indonesia, Era Soekamto dan Tuty Cholid.

Dalam konferensi pers tadi malam, Era Soekamto mengatakan, dirinya mencoba mengawinkan Bugis dan Jawa. Perpaduan dua kingdom tersebut menurut dia sangat fantatis. Mengusung konsep Swargaloka, Era menghadirkan desain yang universal. "Saya menggabungkan dua budaya, Bugis dengan Baju Bodo dan Jawa dengan Dodot dan Kebaya. Aksesori juga replika perpaduan kerajaan Jawa dan Bugis," sebut Era.

Sementara itu, Tuty Cholid mengusung karya berjudul Baine Gammara, bahasa Makassar yang terjemahan dalam bahasa Indonesia adalah wanita yang cantik. Sulsel menurut Tuty, menjadi ikon dengan sutera. "Saya suka sutera dan corak sutera Bugis yang unik. Saya berikan sentuhan energi full colour 2012. Kita selalu koneksi dan ditawarkan hasil dari alam, demikian pula pewarnaan yang alami. Imaji dan inspirasi Sulsel saya angkat dengan tren, improvisasi Kebaya dan Baju Bodo," paparnya.

Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo pada kesempatan tersebut menjelaskan, ini adalah perwujudan dari pendekatan nasionalisme. Idealisme yang dipoles dalam bentuk performing. "Buat apa kita menjadi pasar dari produk luar negeri, padahal kita punya produk yang bagus. Sutera kita hampir bersamaan China. Kalau kita kemas lebih baik, sutera Sulsel luar biasa. Dulu produksi hanya sekitar 100 meter per hari, sekarang bisa 800 meter per hari," ujarnya.

Pada 2012 mendatang, Makassar sebut Syahrul akan menjadi tuan rumah Konferensi Sutera Internasional. Itu kata Syahrul akan menjadi momentum kebangkitan sutera Sulsel. "Pendekatan ke depan, kami akan mengembangkan ulat sutera dan bibitnya. Kita membangun cadangan untuk ulat suteranya. Sehingga kami berharap bisa memenuhi demand sutera ke depan," paparnya. (aswadsyam)

Racikan Damai Pedagang Mobil dan Dokter Bedah

Pat ujuen han pirang, pat pirang tan reda, (Tidak ada hujan yang tak reda, tidak ada perang yang tak berujung). Demikianlah pepatah Aceh yang dikutip Prof Farid Husain pada pendahuluan bukunya "Keeping the Trust for Peace" yang diluncurkan di Grand Sahid Jaya Jalan Jenderal Sudirman, Selasa, 8 November.

ASWAD SYAM
Jakarta

BUKU setebal 339 halaman ini, mengisahkan bagaimana proses perdamaian di Aceh digagas, juga bagaimana mempertahankannya. Peluncuran buku ini bertabur tokoh, di antaranya, mantan Wakil Presiden HM Jusuf Kalla, Menteri Perumahan Rakyat Djan Faridz, Ketua Mahkamah Agung Harifin A Tumpa, serta Ketua PP Muhammadiyah Dien Syamsuddin.
    Sejahrawan politik, Prof Dr Salim Said tampil sebagai pembedah buku tersebut. Menurut Salim, yang menarik dari buku tersebut adalah bagaimana perdamaian Aceh ini digagas atas kerjasama seorang pedagang mobil dengan seorang dokter bedah. Profesi tersebut selintas kata Salim memang berbeda, tapi memiliki titik persamaan pada after sales service.
    Pak Jusuf Kalla sebagai pedagang mobil kata Salim, tahu betul bahwa mobil dijual ada after sales service-nya dan itu tidak gratis. Demikian pula Farid Husain, seorang dokter yang juga harus memberikan layanan pasca operasi bedah. "Memelihara mobil yang dijual, juga memelihara pasien setelah bedah. Perdamaian di Aceh sudah beberapa kali, pernah ada perdamaian Daud Beureuh tapi ditinggalkan begitu saja, sehingga muncul lagi," ujarnya.
    Ambon misalnya kata Salim, masih ada bibit-bibit yang akan muncul. Buku ini sebut Salim, bagus dibaca ketika akan naik pesawat. Karena tulisannya pendek-pendek. Salim juga mengingatkan, pentingnya menulis buku. "Saya sejarahwan politik, saya mau menulis buku hubungan Nasution dan Soeharto, tapi tidak banyak sumber. Kecuali Nasution, tidak banyak jenderal yang bisa menulis memoar. Menulis buku itu sangat bagus untuk sejarah Indonesia," sebutnya.
    Dalam sambutannya, Prof Farid mengungkapkan, dalam memproses perdamaian di Aceh, dirinya banyak mendapat wejangan dari JK. Salah satu yang diingat Farid adalah, bahwa menjual mobil bisa satu dua jam saja, tapi menjaga kepercayaan agar orang membeli kembali mobil itu butuh bertahun-tahun. "Pada intinya, perdamaian yang langgeng hanya dapat diupayakan bila tercipta kepercayaan timbal balik di antara kedua belah pihak yang menyepakati perdamaian," sebutnya.
    Jusuf Kalla yang hadir memberi kata sambutan pada peluncuran buku tersebut mengatakan, masalah Ambon, Aceh, serta Papua adalah masalah keadilan sosial. Papua sebut JK, kaya tapi rakyat tidak menikmatinya, demikain pula di Aceh dan daerah-daerah lain yang pernah berkonflik. Konflik Aceh diselesaikan enam bulan, sedangkan poso diselesaikan dua minggu. Meski demikian, butuh membangun trust atau kepercayaan selama bertahun-tahun. "Menjaga trust itu susah, harus mendelivernya, juga memonitooring semua kejadian dan jangan ada masalah yang timbul," ujarnya.
    JK juga mengungkapkan, dalam upaya perdamaian, dirinya bertiga dengan Farid dan Hamid Awaluddin. Farid sebut JK adalah ahli lobi, dan Hamid untuk urusan hukumnya, sedangkan dirinya mengkoordinasikan ke semua pihak. "Sekarang, kalau ada masalah di Aceh, saya yang pertama dilapori. Saya memang bukan lagi wapres, Farid juga sudah pensiun, tapi ini tanggung jawab moral," ujar JK.
    Lebih jauh JK mengungkapkan, untuk perdamaian, diperlukan kepercayaan. Dan kepercayaan memerlukan kompromi. "Sehingga untuk menjaga perdamaian, harus menjaga kepercayaan, menjaga kompromi, dan menjaga hati nurani," sebutnya.
    Ketua PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin menambahkan, dalam bahasa Arab ada padanan kata trust yang digunakan Farid pada judul bukunya, yakni amanah. Kata amanah sebut Din, berasal dari akar kata iman dan aman. "Jika kita amanah dengan iman kita, maka akan tercipta keamanan," tutur Din. (*)

Harpis Dunia itu Berdarah Toraja

JAKARTA, FAJAR -- Nada-nada ringan mengalun pelan dari alat musik harpa, dalam pertunjukan orkestra bertajuk "New Year's Concert" di Aula Simfonia Jakarta, malam tadi. Bukan alat musiknya yang mencuri perhatian, tapi pemetiknya, seorang pemuda berusia 26 tahun. Wajahnya juga berbeda dengan musisi lainnya yang rata-rata bule, dia berwajah Indonesia, dia berdarah timur, darah Tana Toraja. Namanya, Rama Andhika Widi Salempang atau yang akrab disapa, Rama Widi.
    Nama Salempang tentu saja mengingatkan kita dengan nama Irjen Pol Mathius Salempang, mantan Kapolda Sulselbar. Rama Widi, memang merupakan putera sulung petinggi korps berbaju cokelat itu. Konser yang malam tadi dihelat bersama Symphonia Vienna Orchestra dari Austria, mendapat aplaus panjang dari para penggemar musik klasik Indonesia.
    Symphonia Vienna Orcestra digawangi musisi-musisi dunia yang berkelas maestro, Raphael Erod yang bertugas sebagai konduktor sekaligus pianis, Jeno Koppandi (biola sekaligus concert master), Martin Reining (biola), Attila Kovacs (biola), Daniel Baran (cello), Gabor Piukovics (contrabass), Rama Widi (harpa), Steffi Molle (flute), Zsolt Kovacs (oboe), Shi Li (Bassoon), Thomas Orthaber (clarinet), Laszlo Seeman (french horn), Helmut Zsaitsits (terompet), Ivan Horvat (trombone), dan Stefan Tivadar (timpani atau perkusi).
    Rama memang bukan hanya kali ini memperkuat Symphonia Vienna Orchestra. Pemuda kelahiran Jakarta, 31 Agustus 1985 ini sebelumnya sudah keliling China bersama Symphonia Vienna Orchestra. Bukan hanya dengan Symphonia Vienna Orchestra, Rama juga pernah keliling eropa dengan Zoltan Kodaly World Youth Orchestra, juga Joseph Haydn Konzertverein dari Vienna Austria.
    Rama juga merupakan harpis laki-laki Indonesia pertama, juga harpis pertama yang pernah tampil solo dengan orkestra terbaik Indonesia, seperti, Twilite Orchestra, Jakarta Chamber Orchestra, serta Capella Amadeus String Chamber Orchestra. Dia tercatat sudah 20 kali menjadi solois orkestra.
    Rama bersama Symphonia Vienna Orchestra, memukau penggemarnya yang memadati Aula Simfonia, Kemayoran Jakarta. Rama Widi sendiri dalam press conference Jumat, 13 Januari memaparkan, Symphonia Vienna Orchestra rajin keliling dunia memperkenalkan musik klasik setiap akhir tahun. Pada pesta penutupan tahun 2011, Syimphonia Vienna Orchestra sebut Rama, baru saja manggung di China. Namun lanjut Rama, ada konsep berbeda yang ditampilkan pada pertunjukan di Jakarta.
    "Untuk pertunjukan di Indonesia, kita mengambil setiap principle untuk alat musik. Jadi mereka adalah musisi hebat untuk alat-alat musik masing-masing," ujar Rama.
    Selain itu, dalam konser kali ini, Symphonia Vienna Orchestra tidak hanya memainkan musik klasik dunia, tapi juga akan memainkan lagu-lagu daerah asal Indonesia, di antaranya, O Ina Ni Keke dari Sulawesi Utara, Jali-jali dari DKI Jakarta, Ampar-ampar Pisang dari Kalimantan Selatan, dan Yamko Rambe Yamko dari Papua.
    The Vienna sebut Rama, sudah dua kali konser di Jakarta. Sebelumnya, mereka menggelar konser pada 2009 lalu, dan mendapat respons yang sangat luar biasa. Meski demikian, Rama melihat perkembangan musik klasik di Indonesia masih sangat tertinggal di banding Eropa. Di Austria sebut Rama, pertunjukan orkestra sudah terjadwal dalam setahun, sehingga masyarakat memiliki pilihan untuk menonton. "Di Indonesia perkembangannya belum terlalu menggembirakan, kita saja masih mensosialisasikan pertunjukan ini lewat akun sosial," ujarnya.
    Rama mengaku, dia sengaja menjadwalkan konser orkestra di Indonesia, karena ingin melihat masyarakat di negaranya bisa menghargai musik klasik. "Kita bermain musik, kita berdiplomasi sendiri. Apa yang orang Indonesia pikir bahwa musik klasik hanya untuk kalangan tertentu, kalangan yang mapan, dan cerdas, itu akan kita ubah. Musik klasik adalah milik semua orang yang ingin membuka pikiran dan cakrawala mereka," jelasnya.
    Konduktor Syimphonia Vienna Orchestra, Raphael Erod menjelaskan, dirinya mendapatkan pengalaman yang sangat menyenangkan, bisa membawakan lagu-lagu daerah dengan not-not yang rumit. Namun menurutnya, musik adalah bahasa universal, dan dengan lagu-lagu daerah, dirinya bisa berkreasi melakukan aransemen sehingga iramanya semakin enak kedengaran di telinga.
    Penyanyi solo yang ikut dalam konser tersebut, Clarentia Prameta, mengaku mendapatkan kesempatan yang membanggakan, bisa bekerjasama orkestra kelas dunia. Hal senada diutarakan, Jannus dari The Singer Chamber Choir asal dari Bandung. (asw)

(Jejak Syekh Yusuf di Parangloe (2-Selesai) Bubung Tembo', Sumur yang Tak Pernah Kering

SELAIN kuburan Dampang Ko'mara, Syekh Yusuf juga disebut meninggalkan jejak berupa sumur tua. Tempat yang diyakini menjadi lokasi tempat mandi lelaki penentang Apartheid di Afrika Selatan itu.

ASWAD SYAM
Tamalanrea

SEBUAH sumur berdiameter sekira tiga meter, tampak berdiri di sudut tikungan jalan poros Kelurahan Parangloe Kecamatan Tamalanrea. Sumur tersebut sudah ditembok, oleh masyarakat setempat, sumur itu dinamakan Bubung Tembo'. Di bagian kiri sumur, tampak kamar mandi dua buah, dan beberapa pohon waru mengelilingi sumur sehingga tampak rindang.
Masyarakat meyakini kalau sumur tersebut merupakan peninggalan Syekh Yusuf Al Makassary Tuanta Salamaka, pasalnya tak ada yang tahu kapan sumur tersebut dibuat. "Pada saat saya kecil, sumur itu sudah ada," ujar H Sakka, Ketua RW 04 Parangloe yang usianya sudah berkepala lima.
Sakka mengungkapkan, di Parangloe hanya sumur itulah yang paling tua. Sumur tersebut kata Sakka, dilapisi semen pada masa penjajahan Belanda. Meski demikian, Sakka meyakini kalau sumur tersebut sudah ada sebelum penjajahan Belanda.
Satu yang disyukuri Sakka dengan kehadiran sumur tersebut, karena airnya tak pernah kering, sehingga selalu mampu memenuhi kebutuhan air masyarakat Parangloe. Konon, di tempat itulah Syekh Yusuf selalu mandi dan mengambil air wudhu.
Hal senada diungkapkan Pelaksana Tugas Sekretaris Kelurahan Parangloe, Hasanuddin. Menurutnya, sumur yang paling tua di Parangloe adalah bubung tembo'. Sumur tersebut lanjut Hasanuddin, merupakan sumur yang airnya tetap melimpah meski pada musim kemarau. "Kalau sumur-sumur lainnya sering kering pada musim kemarau, semua warga mengambil air dari sumur itu," ungkap Hasanuddin.
Sumur tersebut berjarak sekitar 200 meter dari lokasi kuburan Dampang Ko'mara. Bubung Tembo' masih beruntung karena tetap dipelihara warga, pasalnya menghasilkan air tawar yang jernih, ini berbeda dengan kuburan Dampang Ko'mara. Lokasi bersejarah tersebut sudah tidak terawat lagi, beberapa batu persegi yang merupakan bagian dari komplek makam, sudah berantakan.
Salah seorang warga, Hj Sairah mengatakan, kuburan tersebut dulu tinggi, namun, sekarang letaknya lebih rendah dari rumah warga karena masyarakat yang membangun rumah rata-rata menimbuni rumahnya. Bahkan, secara tidak sengaja, ada bagian tempat bersejarah yang tidak sengaja ikut tertimbun. "Ada juga tanah yang tak ditumbuhi rumput, dulu di rumah itu," ungkap Hj Sairah sambil menunjuk ke arah rumah yang terletak di sudut lorong. (*)

(Jejak Syekh Yusuf di Parangloe (1) Tanah Lahir Tak Ditumbuhi Rumput

TAK ada penanda khusus tentang jejak Syekh Yusuf di tanah kelahirannya, Parangloe, kecuali sebuah kuburan tua yang oleh masyarakat setempat disebut Dampang.

ASWAD SYAM
Tamalanrea

SAYA berinisiatif menemui Ketua RW 04 Kelurahan Parangloe Kecamatan Tamalanrea, H Sakka. Rumahnya masuk di sebuah lorong sebelah kanan jalan poros Kelurahan Parangloe. Lorong itu sangat sempit, sehingga motor pun akan sulit lewat jika berpapasan. Paving blok jalanan tersebut sebagian sudah rusak, masyarakat setempat menyebut lorong tersebut, Jalan Dampang.
Sebuah papan terpancang di depan rumah ujung lorong yang juga berfungsi sebagai toko kecil. Dalam papan nama itu, tertulis Ketua ORW 04. Saya mengucap salam, seorang anak muda yang sedang membereskan barang jualan menjawab salam saya. "Cari siapa?" tanyanya. Saat saya mengutarakan niat bertemu Ketua RW, dia kemudian mempersilakan masuk dan duduk.
Tidak lama seorang lelaki yang usianya sekitar 50 tahun menemui saya. Dia memperkenalkan diri sebagai H Sakka, Ketua RW 04. Kami pun terlibat pembicaraan seputar Syekh Yusuf Al Makassary Tuanta Salamaka. Menurut Sakka, dirinya juga tidak mengetahui persis lokasi Syekh Yusuf dilahirkan, pasalnya tak ada tanda-tanda yang dipasang warga. "Ini mungkin untuk menghindari adanya upaya pensakralan sebuah tempat," ungkap Sakka.
Namun lanjut Sakka, dari cerita orang-orang tua, Syekh Yusuf memang lahir di Parangloe yang dulu masuk dalam wilayah Kerajaan Tallo. "Di sinimi Parangloe yang sebenarnya, sekarang masuk wilayah Tamalanrea. Menurut cerita orang tua kami, di sinilah tempat lahirnya Syekh Yusuf. Menurut cerita orang tua dahulu, pada saat kelahiran Syekh Yusuf, orang di Tallo dan Gowa mengaku melihat ada cahaya jatuh di tempat ini," ungkap Sakka.
Meski tak menyebut tempat khusus, namun Sakka menunjukkan sebuah tempat di ujung lorong sebelah kiri dari lorongnya yang ditengarai sebagai tempat lahir Syekh Yusuf, pasalnya cuma di situ ada tanda berupa kuburan tua yang diberi nama Dampang. Tempat yang sama ditunjukkan pelaksana tugas Sekretaris Kelurahan Parangloe, Hasanuddin. Menurut Hasanuddin, berdasarkan kepercayaan masyarakat setempat, salah satu ciri tempat lahir Syekh Yusuf adalah tanahnya tak bisa ditumbuhi rumput. "Orang dari purbakala sering masuk ke Jalan Dampang, coba kita kesana," ungkap Hasanuddin.
Saya pun ke arah yang dimaksud, dan ternyata memang benar di sana ada sebuah pohon besar yang di bawahnya terdapat pahatan batu gunung berbentuk segi empat yang berserakan. Pahatan batu persegi tersebut, serupa dengan material bangunan Benteng Rotterdam dan bangunan-bangunan kuno lainnya. Menurut warga setempat, itu adalah kuburan seorang bernama Dampang. Dalam lontarak Riwayakna Tuanta Salamaka ri Gowa tercantum nama Dampang Ko'mara, yang disebut menjabat Gallarang Moncongloe dan merupakan kakek dari Syekh Yusuf.
Dalam lontarak disebutkan, Syekh Yusuf dilahirkan di Parangloe, 3 juli 1626, bertepatan 1 Syawal 1036 Hijriah. Lahir dari rahim sang ibu, Aminah, putri Gallarang Moncongloe masih bersepupu dengan Sultan Alauddin, sedangkan ayahnya dalam lontarak tersebut hanya dikatakan seorang lelaki tua yang tidak diketahui namanya, namun, sebagian orang mempercayai kalau lelaki tua itu adalah Nabi Khidir. Sebagian referensi lain menyebut kalau nama ayah Syekh Yusuf adalah Abdullah Khaidir Tuanta Manjalawi. Syekh Yusuf lahir dengan nama Muhammad Yusuf pada masa pemerintahan Raja Gowa ke-14 Tumenanga ri Gaukanna I Manga'rangi Daeng Manrabia Sultan Aluddin. Guru mengajinya, Daeng ri Tasammang, Syekh Yusuf juga pernah belajar ilmu agama pada Syekh Jalaluddin Al Aidit di Cikoang. (*)

(Melirik Gandrang Mariolo Adat Tu Bira) Dulu Pengiring Raja, Sekarang Pengiring Pengantin

UNTUK dapat bertahan, gendang adat "Gandrang Mariollo Adat Tu Bira" melakukan transformasi, dari gendang pengiring raja menjadi gendang pengiring pengantin.

ASWAD SYAM
Biringkanaya

MEMASUKI kilometer 13 jalan arteri tol Ir Sutami, kita akan melihat pelat seng berwarna biru yang terpasang di sisi kiri jalan. Pada pelat seng tersebut tertulis "Gandrang Adat Tu Bira". Di bagian samping pelat seng tersebut, terdapat sebuah rumah batu setengah jadi. Rumah batu tersebut terdiri beberapa sekat, mirip indekos. Suasana rumah batu tersebut terlihat sepi.
Di sebelah bangunan tersebut, terlihat seorang wanita setengah baya tengah mengoleskan campuran semen di lantai rumahnya yang mulai berlubang. Saya bertanya kepada wanita tersebut, mengenai lokasi Gandrang Mariolo Adat Tu Bira. Oleh wanita itu, saya diarahkan ke rumah Daeng Sese.
Rumah Daeng Sese berada di bagian belakang rumah batu setengah jadi tersebut. Sebuah rumah panggung bercat merah jambu, yang di bagian bawahnya juga ditembok. Pintu rumah tampak tertutup rapat, namun, dari dalam rumah terdengar suara batuk seorang lelaki. Saya kemudian mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Dari dalam rumah terdengar suara berat seorang lelaki menjawab salam saya.
Pintu kemudian terbuka, dan muncul seorang lelaki berbaju singlet putih. Usianya sekitar 50 tahun, sebagian rambutnya tampak sudah memutih. Dialah Ahmad Daeng Sese, pemilik gendang adat tersebut. Daeng Sese mengaku mewarisi gendang adat tersebut secara turun temurun dari kakek buyutnya. Daeng Sese memperlihatkan silsilah keluarganya, berdasarkan silsilah tersebut, Daeng Sese menyebut dirinya masih keturunan Syekh Yusuf Al Makassary.
Menurut Daeng Sese, gendang adat tersebut usianya sudah berabad-abad dan merupakan milik masyarakat Kelurahan Bira, yang dulu merupakan kerajaan kecil di bawah Kerajaan Tallo. Makanya gendang adat tersebut dinamakan Gandrang Mariolo Adat Tu Bira. "Berdasarkan informasi yang saya dapat dari orang tua saya, gendang ini dulunya digunakan untuk pengiring raja. Kalau Karaeng Tallo datang, biasanya disambut dengan gendang adat, begitu pula kalau Karaeng Tallo meninggalkan Bira," ungkap Daeng Sese.
Sekarang, gendang adat tersebut banyak menerima pesanan dari masyarakat Biringkanaya untuk diiringi pada saat mengantar dan menjemput pengantin. Dari hasil mengiringi pengantin tersebut, Daeng Sese mengaku menerima bayaran sekitar Rp 1 juta. Uang tersebut kemudian digunakan untuk memelihara peralatannya, dua buah gendang, satu gong, dan satu pui'-pui'. "Gendang adat ini, sudah menjadi bagian dari pesta pengantin masyarakat Biringkanaya, kalau mereka hendak melaksanakan hajatan perkawinan, pasti mereka memakai gendang adat kami," ungkap Daeng Sese.

Makassar dari Mangkassarakki Nabiyya

JIKA berkunjung ke Tallo, Anda mungkin menemui sebuah bangunan seluas sembilan meter persegi di sisi kiri jalan. Bangunan itu mirip rumah. Di dalam bangunan itulah Timungang Karama berada.

Laporan
Aswad Syam
Tallo

TIMUNGANG KARAMA terletak di Kelurahan Buloa, Tallo. Letaknya tidak begitu jauh dari gerbang tol. Tepatnya sebelum gerbang, belok ke kiri. Saat saya bertanya kepada seorang warga tentang orang yang paling tahu sejarah Tallo, ditunjukkanlah seorang lelaki berumur sekira 65 tahun. Lelaki itu sementara menjaga kios jualannya.
Perawakan sedang. Agak bungkuk. Jika berbicara kita harus sedikit mendekatkan mulut ke telinganya. Dialah, Abdul Rahim Daeng Naba, pinatia (penjaga, Red) Timungang ri Tallo.
Saat saya meminta izin melihat Timungang Karama, dia mengangguk dan bergegas ke rumahnya mengambil kunci. Rumah Rahim berada tepat di belakang Timungang Karama.
Saat Rahim membuka pintu Timungang, tampaklah sebuah benda mirip nisan. "Itulah Timungang Karama," ungkap Rahim.
Rahim lalu menarik secarik kertas terbungkus plastik. Dalam kertas terdapat teks sejarah Timungang Karama. Tulisan itu diketik rapi. Menurut Rahim, dia mengetik teks itu dengan mesik tik manual saat kakeknya masih hidup.
Semasa hidup, kakek Rahim, Puang Baddolo Daeng Masaro, juga penjaga Timungang Karama. Pekerjaan sebagai pinatia atau penjaga dijabat secara turun temurun. "Nanti saya wariskan lagi kepada putra saya," ujar Rahim.
Sambil membentangkan kertas putih itu di hadapannya, Rahim mengisahkan kalau Timungang Karama dulunya adalah gerbang masuk ke istana Kerajaan Tallo. Timungang merupakan Bahasa Makassar yang berarti gerbang. Sedang Karama berarti keramat. Jadi Timungang Karama berarti gerbang keramat.
"Rumah di belakang dulunya adalah kompleks istana Kerajaan Tallo. Dulu kita masih bisa mendapatkan batu bata lebar yang merupakan sisa dari istana tersebut," ungkap Rahim.
Di batu itu pulalah Raja Tallo pertama, I Malingkaan Daeng Manyonri Karaeng Matoaya Sultan Abdullah Awwalul Islam, mengaku pernah melihat rasulullah memperlihatkan diri. Oleh masyarakat setempat, peristiwa itu mereka sebut "mangkassarakki nabiyya". Dari perkataan inilah kemudian diyakini asal muasal lahirnya kata "Makassar".
Timungang Karama saat ini dikultuskan masyarakat, banyak masyarakat yang datang ke tempat itu membawa sesajian sambil meminta sesuatu. Mereka juga mengikatkan daun pandang di empat tiang yang ada di sekeliling Timungang Karama. Jika permintaan dikabulkan, mereka kemudian kembali untuk membuka ikatannya. Bahkan ada pendatang yang datang dari Malaysia.
"Banyak orang mengatakan ini musyrik, padahal tidak. Di sini hanya tempat yang makbul untuk berdoa, dan mereka juga meminta kepada Allah," ujar Rahim. (*)

(Mengenang Metropolitanku Tempo Doeloe) Masigi Saiyyeka, Tanda Mata Keturunan Sayyidina Ali

ETNIS Arab sempat menghasilkan buah karya berupa masjid yang sudah berusia 102 tahun, masjid ini menjadi bagian dari sejarah Kota Makassar.

ASWAD SYAM
Wajo

SEBUAH gerbang bertuliskan "Masjid Assaid", menyambut di lorong 234 Jalan Lombok Kecamatan Wajo. Begitu melewati gerbang, saya melihat sebuah halaman yang sangat luas. Di tembok pagar halaman tersebut, masih terdapat bekas-bekas bangunan yang diruntuhkan.
Di ujung halaman tersebut, tampak berdiri sebuah masjid yang dindingnya bercat putih dan kuning, sebagian cat tampak terkelupas. Masjid itu memiliki dua buah kubah, pada puncak masjid, kubahnya berbentuk piramida, sementara kubah yang satunya terdapat di bagian depan berbentuk bulat dan berwarna hijau. Di bawah kubah tersebut terdapat tulisan "Masjid Assaid 1907" dengan hurub hijaiyah (arab). Sebuah penanda bahwa masjid tersebut dibangun pada 1907.
Imam Masjid Assaid, Sayyid Alwi bin Muhammad Bafaqih mengungkapkan, masjid tersebut juga dikenal dengan masjid arab atau orang Makassar menyebutnya "Masigi Saiyyeka", karena dibangun oleh orang Arab dari Hadramaut yang menyebarkan Islam pada awal abad ke-20. Lokasi masjid berada di sekitar Pelabuhan Soekarno Hatta, tempat imigran Arab itu berlabuh.
Menurut Sayyid Alwi, imigran Arab tersebut merupakan keturunan habaib, yaitu keturunan yang silsilahnya bersambung ke Sayyidina Ali RA dan Sayyidah Fatimah Az Zahra RA. Masjid Assaid dibangun seorang habib yang juga pedagang sukses bernama Sayyid Hasan bin Muhammad Alsafie, dibantu beberapa temannya. Masjid tersebut berdiri di atas tanah seluas 450 meter persegi. Pembangunan dimulai pada 1905 dan baru rampung pada 1907.
Imam pertama masjid tersebut adalah Sayyid Ali bin Abdurrahman Syihab. Kakek Quraish Syihab ini, menjadi imam pada periode 1907-1915. Sejak berdiri hingga sekarang, Masjid Assaid dipimpin 12 imam, dan Sayyid Alwi bin Muhammad Bafaqih adalah imam ke-12. Mereka yang menjadi imam di masjid tersebut kata Sayyid Alwi, harus merupakan keturunan habaib. Mereka lanjut Sayyid Alwi, dipilih berdasarkan musyawarah para habaib.
Sayyid Alwi menambahkan, Masjid Assaid memiliki sistem ibadah tertentu yang merupakan warisan leluhur. Sebelum tarawih kata Sayyid Alwi, para jemaah diharuskan membaca wirid yang dikenal dengan ratib al haddad. Juga ditambah qasaid atau puji-pujian kepada Allah dan Rasulullah dalam satu pimpinan yang diikuti jemaah secara serentak. Selain itu, di luar ramadan juga digelar pengajian rutin setiap malam Kamis, juga bacaan maulid pada malam Jumat. Meski digelar masjid Arab, Masjid Assaid tidak bersifat ekslusif. "Jemaah masjid ini bukan hanya dari etnis Arab, melainkan untuk seluruh kalangan. Jemaah di sini, selain warga Muslim sekitar pecinan, juga ada jemaah dari BTP, bahkan ada yang datang dari Gowa," ungkap lelaki berjenggot tebal ini. (*)

Paotere, Dulu dan Kini (2-Selesai) Perputaran Uang Rp 350 Juta Per Hari

MESKI masih berstatus pelabuhan rakyat, namun, roda perekonomian di kawasan Paotere berjalan baik. Setiap hari, uang di kawasan ini berputar sekira Rp 350 juta per hari atau Rp 10,5 miliar per bulan.

OLEH: ASWAD SYAM

SEORANG lelaki kekar bertelanjang dada berjalan ke arah kapal nelayan yang bersandar di dermaga Paotere. Tangan kanannya meraih sarung yang tersandang di pundak, kemudian ditutupkan pada kepala. Dia kemudian menepi memberi jalan kepada seorang temannya yang datang dari arah kapal dengan memikul karung. Tampaknya, beban di pundaknya tersebut sangat berat, terbukti, lelaki itu harus berjalan bongkok dengan urat-urat betis yang menegang.
Rusman, demikian nama lelaki itu, usianya 25 tahun, namun perawakannya kelihatan lebih tua dari usianya yang sebenarnya. Dia sehari-hari bekerja sebagai buruh harian di kawasan Paotere. Dia mengangkat barang-barang dagangan antarpulau yang diangkut kapal-kapal yang merapat. Menurutnya, setiap hari pendapatannya hanya cukup untuk makan dia dan keluarganya.
"Paotere adalah hidup kami, piring kami. Untuk itu, kami meminta kepada pemerintah agar tetap mempertahankan Paotere seperti sekarang ini, jangan lagi dipindahkan agar kami masih bisa tetap hidup di sini," harapnya.
Saat ini, pelabuhan yang dikelola PT Pelindo itu telah berubah bentuk. Pelabuhan yang penuh nilai historis itu sudah diberi sentuhan modern. Fasilitas pun memberikan kemudahan bagi kapal yang akan merapat ke dermaga.
Pelabuhan Paotere dilengkapi dermaga sepanjang 550 meter, lapangan penyimpanan barang sementara, hingga tourist centre. Selain itu, juga ada penahan gelombang yang bertujuan untuk mempermudah kapal memasuki dermaga.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Makassar, Syaiful Saleh mengungkapkan, rata-rata dalam satu bulan ada sekira 100 kapal yang masuk ke pelabuhan tradisional ini. Kebanyakan kapal-kapal yang merapat di pelabuhan tersebut lanjut Syaiful, berasal dari pulau-pulau Makassar, Pangkep, juga Takalar dengan perahu-perahu kecilnya.
Syaiful membeberkan, kontribusi Paotere terhadap pendapatan asli daerah (PAD) Kota Makassar sekira Rp 456 juta per tahun. Jumlah tersebut mungkin masih sedikit mengingat besarnya perputaran uang di kawasan ini.
Ikan yang dibongkar di Paotere sekira 25 ton per hari. Harga ikan per kilogram rata-rata Rp 14 ribu. Dengan demikian, dalam sehari perputaran uang mencapai Rp 350 juta, dalam sebulan bisa Rp 10,5 miliar dan dalam setahun Rp 126 miliar.
Syaiful mengungkapkan, Paotere memiliki prospek ke depan yang cukup bagus. Dengan semakin lengkapnya dukungan sarana kata Syaiful, untuk nelayan mungkin tidak terlalu signifikan manfaatnya, namun, bagi konsumen akan sangat berarti. Saat ini lanjut Syaiful, pihaknya menerapkan sistem rantai dingin atau cold change system. Dengan sistem ini kata dia, konsumen akan bisa menikmati ikan segar.
"Mulai dari kapal penangkap ikan dilengkapi dengan es pendingin, kemudian sampai di pelabuhan ada mini cold storage, demikian pula motor, becak atau sepeda yang mengantar ikan ke konsumen harus dilengkapi dengan es pendingin. Dengan demikian, diharapkan ikan sampai ke konsumen dalam keadaan segar atau fresh," papar Syaiful.
Menurut Syaiful, saat ini infrastruktur sudah bagus, pemerintah sudah memperbaiki pelataran dan tinggal dermaga yang masih harus dipoles.
Ikan baronang, cepak, sunu atau kerapu, dan ikan bolu atau bandeng, merupakan maskot menu yang selalu disajikan baik di warung-warung tenda maupun rumah makan berkelas di Paotere. Pengunjung juga bisa membawa pulang ole-ole berupa ikan asin dari berbagai jenis ikan, seperti teri, sunu, kakap merah. Ikan-ikan itu, bisa didapatkan di toko-toko yang berjejer di sepanjang jalan menuju Pelra Paotere.
Bagi yang hobi memancing, dapat memanfaatkan dermaga TPI yang menjorok ke laut sebagai tempat memancing. Anak-anak nelayan yang selalu berseliweran di tempat itu, selalu siap persewaan kail beserta umpannya, dengan harga yang sangat murah yakni Rp 2.000 hingga Rp 3.500 per jam.
Pelra Paotere yang sarat dengan nilai sejarah ini, sempat direncanakan menjadi pelabuhan kontainer, menyusul pelabuhan kontainer Soekarno-Hatta yang sudah ada. Ide itu, berangkat dari tingginya arus frekuensi lalulintas kontainer yang masuk ke Makassar. Sehingga pihak Pelindo IV membidik kawasan baru sebagai pelabuhan kontainer.
Namun niat itu batal menyusul terbitnya Keputusan Menteri Perhubungan (Kepmenhub) No 2/2004. Kepmen tersebut menyebutkan bahwa proses reklamasi pembuatan proyek Makassar New Port itu hanya dilakukan di perairan dangkal. Semula, pelabuhan rakyat tersebut diwacanakan akan dipindahkan ke Kelurahan Untia, Kecamatan Biringkanaya, dengan alasan pelabuhan yang memiliki nilai sejarah itu dinilai mengganggu estetika wajah pelabuhan Soekarno-Hatta. (*)