JAKARTA, FAJAR -- Nada-nada ringan mengalun pelan dari alat musik harpa, dalam pertunjukan orkestra bertajuk "New Year's Concert" di Aula Simfonia Jakarta, malam tadi. Bukan alat musiknya yang mencuri perhatian, tapi pemetiknya, seorang pemuda berusia 26 tahun. Wajahnya juga berbeda dengan musisi lainnya yang rata-rata bule, dia berwajah Indonesia, dia berdarah timur, darah Tana Toraja. Namanya, Rama Andhika Widi Salempang atau yang akrab disapa, Rama Widi.
Nama Salempang tentu saja mengingatkan kita dengan nama Irjen Pol Mathius Salempang, mantan Kapolda Sulselbar. Rama Widi, memang merupakan putera sulung petinggi korps berbaju cokelat itu. Konser yang malam tadi dihelat bersama Symphonia Vienna Orchestra dari Austria, mendapat aplaus panjang dari para penggemar musik klasik Indonesia.
Symphonia Vienna Orcestra digawangi musisi-musisi dunia yang berkelas maestro, Raphael Erod yang bertugas sebagai konduktor sekaligus pianis, Jeno Koppandi (biola sekaligus concert master), Martin Reining (biola), Attila Kovacs (biola), Daniel Baran (cello), Gabor Piukovics (contrabass), Rama Widi (harpa), Steffi Molle (flute), Zsolt Kovacs (oboe), Shi Li (Bassoon), Thomas Orthaber (clarinet), Laszlo Seeman (french horn), Helmut Zsaitsits (terompet), Ivan Horvat (trombone), dan Stefan Tivadar (timpani atau perkusi).
Rama memang bukan hanya kali ini memperkuat Symphonia Vienna Orchestra. Pemuda kelahiran Jakarta, 31 Agustus 1985 ini sebelumnya sudah keliling China bersama Symphonia Vienna Orchestra. Bukan hanya dengan Symphonia Vienna Orchestra, Rama juga pernah keliling eropa dengan Zoltan Kodaly World Youth Orchestra, juga Joseph Haydn Konzertverein dari Vienna Austria.
Rama juga merupakan harpis laki-laki Indonesia pertama, juga harpis pertama yang pernah tampil solo dengan orkestra terbaik Indonesia, seperti, Twilite Orchestra, Jakarta Chamber Orchestra, serta Capella Amadeus String Chamber Orchestra. Dia tercatat sudah 20 kali menjadi solois orkestra.
Rama bersama Symphonia Vienna Orchestra, memukau penggemarnya yang memadati Aula Simfonia, Kemayoran Jakarta. Rama Widi sendiri dalam press conference Jumat, 13 Januari memaparkan, Symphonia Vienna Orchestra rajin keliling dunia memperkenalkan musik klasik setiap akhir tahun. Pada pesta penutupan tahun 2011, Syimphonia Vienna Orchestra sebut Rama, baru saja manggung di China. Namun lanjut Rama, ada konsep berbeda yang ditampilkan pada pertunjukan di Jakarta.
"Untuk pertunjukan di Indonesia, kita mengambil setiap principle untuk alat musik. Jadi mereka adalah musisi hebat untuk alat-alat musik masing-masing," ujar Rama.
Selain itu, dalam konser kali ini, Symphonia Vienna Orchestra tidak hanya memainkan musik klasik dunia, tapi juga akan memainkan lagu-lagu daerah asal Indonesia, di antaranya, O Ina Ni Keke dari Sulawesi Utara, Jali-jali dari DKI Jakarta, Ampar-ampar Pisang dari Kalimantan Selatan, dan Yamko Rambe Yamko dari Papua.
The Vienna sebut Rama, sudah dua kali konser di Jakarta. Sebelumnya, mereka menggelar konser pada 2009 lalu, dan mendapat respons yang sangat luar biasa. Meski demikian, Rama melihat perkembangan musik klasik di Indonesia masih sangat tertinggal di banding Eropa. Di Austria sebut Rama, pertunjukan orkestra sudah terjadwal dalam setahun, sehingga masyarakat memiliki pilihan untuk menonton. "Di Indonesia perkembangannya belum terlalu menggembirakan, kita saja masih mensosialisasikan pertunjukan ini lewat akun sosial," ujarnya.
Rama mengaku, dia sengaja menjadwalkan konser orkestra di Indonesia, karena ingin melihat masyarakat di negaranya bisa menghargai musik klasik. "Kita bermain musik, kita berdiplomasi sendiri. Apa yang orang Indonesia pikir bahwa musik klasik hanya untuk kalangan tertentu, kalangan yang mapan, dan cerdas, itu akan kita ubah. Musik klasik adalah milik semua orang yang ingin membuka pikiran dan cakrawala mereka," jelasnya.
Konduktor Syimphonia Vienna Orchestra, Raphael Erod menjelaskan, dirinya mendapatkan pengalaman yang sangat menyenangkan, bisa membawakan lagu-lagu daerah dengan not-not yang rumit. Namun menurutnya, musik adalah bahasa universal, dan dengan lagu-lagu daerah, dirinya bisa berkreasi melakukan aransemen sehingga iramanya semakin enak kedengaran di telinga.
Penyanyi solo yang ikut dalam konser tersebut, Clarentia Prameta, mengaku mendapatkan kesempatan yang membanggakan, bisa bekerjasama orkestra kelas dunia. Hal senada diutarakan, Jannus dari The Singer Chamber Choir asal dari Bandung. (asw)