Rabu, 16 Oktober 2013

Mangga Dua Tutup, Mangga Besar Masih Buka

ASWAD SYAM

ADA salah seorang teman, baru saja mengikuti pelatihan jurnalisme budaya selama sepekan di Hotel Atlet Century. Usai penutupan, dia kemudian datang ke mes FAJAR di Jl Madrasah II Kebayoran Lama Jakarta Selatan. Dia tampak letih, maklum teman tersebut baru saja salah jalan. Tukang ojek mengantarnya ke jalan menuju Bogor, karena pendengarannya Kebayoran Baru.
    Dia sampai di mes sekitar pukul 17.30 Wita. Dia meletakkan ransel bawaannya di kamar mes. "Kak, masih bukakah Mangga Dua sekarang. Mamaku suruhka beli daster," tanyanya.     "Ai...tutupmi mangga dua sekarang. Mangga Besar mami yang buka," ujarku.
    Sejenak, dia mengambil ponsel komunikatornya, memencet-mencet tombolnya dan mendekatkan ke telinganya. "Mama, adama' di mesna Fajar. Tutupmi mangga dua ma, mangga besar mami yang buka," ungkapnya.
    Waduh....saya menyesal juga mengerjai teman ini. Untuk mamanya tidak tahu apa itu mangga besar. (*)
   

Bom Kecil Kagetkan Bu Kepsek

ASWAD SYAM

INI pengalaman saya saat meliput bersama seorang teman. Waktu itu, kami diperbantukan di Radar Sulbar (saat itu masih bernama Radar Mandar). Sesuai mekanisme penerimaan di Fajar waktu itu, mereka yang diterima harus dimagangkan di grup PT Media Fajar.

Saat itu kami jalan berdua meliput di sebuah Sekolah Menengah Atas (SMA) di daerah Polewali Mandar. Kami sempat bertemu dengan kepala sekolah, seorang perempuan. Waktu itu menjelang ujian akhir nasional, jadi tema wawancara kami seputar UAN.

Saya yang bertanya dan teman yang mencatat. Sebelum wawancara, saya melihat teman saya memasukkan rokok ke tempat rokok yang terbuat dari kayu. Dia juga memasukkan sebuah korek gas ke dalam tempat rokok kayu tersebut. Kemudian tempat rokok kayu itu dia masukkan ke saku depan celananya.

Saat lagi asik-asiknya wawancara bersama Bu Kepsek, tiba-tiba terdengar sebuah ledakan dari saku celana depan teman saya, "duarrrr" dan teman saya pun terlonjak kaget dari tempat duduknya, dengan posisi seperti duduk dengan tangan masih memegang pulpen dan buku.

Bu Kepsek juga tampak kaget, sejenak wawancara terhenti. Saya melihat teman saya menahan perih di bagian depan, namun dia berusaha menahannya. "Periksa saja dulu, biar saya lanjutkan wawancaranya," saran saya. Teman saya itu pun beranjak ke kamar kecil, dan saya melanjutkan wawancara. (***)

Investigasi Cindopang "Berbuah" Punggung

ASWAD SYAM

MALAM itu, saya dan seorang wartawan duduk-duduk di teras kantor FAJAR biro Bone (waktu itu masih di Jl Ahmad Yani). Kantor biro tersebut, bertetangga dengan sebuah wisma.
Di depan wisma, teman melihat dua orang wanita muda sedang duduk. "Aswad, mauko bikin tulisan cindopang? (cindopan adalah sebutan untuk wanita penjaja seks di Bone, red). Dua orang itu cindopang," ujarnya sambil menunjuk dua wanita itu dengan bibirnya.
"Ah, masa? Tahu dari mana?" tanya saya.
"Lihat saja gayanya. Kalau tidak percaya, coba saya dekati na?" ujarnya sambil mendekati kedua wanita itu.
Saya melihat, teman itu mulai melakukan pembicaraan dengan kedua wanita yang masih berumur sekitar 20-an tahun itu. Tidak beberapa lama, dia memberikan kode kepada saya untuk mendekat.
"Mbak, kenalkan. Ini teman saya," kata teman itu memperkenalkan saya.
Kami berjabat tangan. Teman itu terus bertanya, mengorek keterangan dari dua cindopang itu, dan saya menyimaknya untuk bahan tulisan saya. Ternyata cindopang itu datang dari luar Bone.
Setelah lengkap sampai soal tarif, saya kemudian memberi tanda ke teman bahwa bahannya sudah cukup.
Sampai di kantor saya langsung membuat tulisan ficer.
Saya memberi kalimat penutup dalam ficer itu, 'Saat teman saya menanyakan tarif, wanita itu berkata, "cuma lima puluh ribu semalam bang," ujarnya sambil sedikit bermanja kepada teman saya'.
Setelah rampung, saya kemudian mengirim ke kantor melalui server berita ftp.
Seperti biasa, setiap Jumat, selesai mengirimkan berita terakhir, saya meluncur ke Makassar dengan motor. Biasa saya berangkat sekitar jam 5, dan tiba di Makassar sekitar pukul 10 malam.
Saat tiba di rumah, semua penghuni sudah tidur. Saat masuk kamar, istri terus memunggungi, tapi saya tahu dia belum tidur.
"Ada apa ya?" pikirku. "Tidak seperti biasanya, kalau saya datang biar tengah malam pun saya pasti disambut dengan ceria."
Saya menyalakan televisi, di lantai kamar depan televisi, saya melihat sebuah koran terhampar, ya halaman Bone, Soppeng, Wajo. Saya melihat ada tulisan yang dilingkari dengan spidol merah. Perlahan saya membaca 'Saat saya menanyakan tarif, wanita itu berkata, "cuma lima puluh ribu semalam bang," ujarnya sambil sedikit bermanja kepada saya'.
"Waduh, kalau ini masalahnya ni saya bisa jelaskan...di sini ada kata "teman" yang hilang," teriakku.
"Sudahlah...tidurmaki...istirahatmaki," ujar istri saya.
Saya pun berbaring di atas hamparan koran itu. (***)

Mama Sudah Salat?

ASWAD SYAM

SEBAGAI rasa terima kasih atas khasiat "sanrego" dari saya, teman yang hobi PJKA (Pulang Jumat Kembali Ahad, red) memberi tips agar tak kecewa saat mudik. "Kawan, saya sering kecewa kalau pulang. Biasa sampai di rumah, ternyata istri saya tanggal merah," ujarnya.
"Jadi, untuk memastikan tidak tanggal merah, saya sedikit berbagi tips sebagai sesama pehobi PJKA," lanjutnya.
"Mau tahu tidak?" tanyanya saat melihat saya masih diam.
"Iya, mau...mau. Apa itu tipsnya teman," tanyaku.
"Begini, sebelum pulang telepon dulu ke rumah pada waktu salat," katanya.
"Kenapa harus waktu salat?" Saya menyela.
"Dengar dulu, kalau waktu magrib misalnya, meneleponmaki, bilang 'mama, sudah maki salat?' Kalau dia bilang sudah, berarti aman, dia bebas tanggal merah, tapi kalo dia bilang 'saya tidak salat' berarti tidak aman, percuma kita naik ke Makassar kalo landasan becek," sarannya.
"Betul juga, patut dicoba," pikirku. (***)

Sanrego Terakhir

ASWAD SYAM

SAAT meliput ficer tentang kayu sanrego di Desa Sanrego, Kecamatan Kahu, Kabupaten Bone, bersama salah seorang wartawan salah satu televisi swasta, saya dihadiahi sebatang kayu oleh tokoh masyarakat keturunan Arung Sanrego bernama Andi Patawari. Kayu itu, kami yakini sebagai kayu sanrego yang asli. Kayu itu saya bagi dua dengan teman wartawan televisi tersebut.
Seperti biasa, usai menuliskan ficer kayu sanrego, banyak teman-teman yang meminta sampel. Saat itu, kebetulan ada rapat wartawan daerah, dan saya membawa potongan kayu tersebut ke Makassar.
Sampai di kantor, saya diserbu karyawan mulai dari bagian keuangan kantor hingga satpam. Kayu itu pun habis tidak tersisa.
Saat saya pulang ke wilayah tugas di Bone, di kantor biro pada malam Jumat, seorang teman datang berkunjung. Lama dia cerita seakan ingin mengungkapkan sesuatu tapi segan. Akhirnya dia menggiring pembicaraan dengan memuji tulisan ficer "sanrego" saya.
"Begini teman, kita ini kan sama-sama PJKA, tidak ada salahnya kita berbagi," ujarnya.
"PJKA itu apa pak?" Tanyaku.
"Pulang Jumat Kembali Ahad," ujarnya.
Maklum, teman ini tugas di Bone dan istrinya tinggal di Makassar. Jadi setiap Jumat sore, dia rutin pulang ke Makassar.
"Terus kenapa pak?" Saya kembali bertanya.
"Saya datang malam Jumat ini, selain karena ini malam yang afdol, juga karena besok kita sama-sama akan melakukan ritual PJKA, jadi boleh dong saya minta sedikit kayu sanregonya," pintanya dengan wajah bersungguh-sungguh.
Waduh, kata  saya dalam hati. Kayunya sudah habis, tapi tidak tega juga sama teman ini. Akhirnya saya punya akal, saya masuk ke kamar saya ambil cutter dan saya iris gagang sapu ijuk yang terbuat dari kayu.
Saya kemudian keluar di teras mendekati teman tadi. "Ini teman, ini sanrego terakhir yang saya miliki,"
Alangkah berseri-serinya wajahnya saya lihat. Dia menerima irisan "sanrego terakhir" itu dengan beberapa kali mengucap terima kasih. Dia menstarter motornya baru pergi.
Hari Senin sore, saya duduk santai dia teras, tiba-tiba dikejutkan klason motor. Ternyata teman penerima "sanrego terakhir" datang. Dengan wajah berseri dia mengacungkan tiga jarinya dan berkata, "tiga kali semalam saya menang kawan, terima kasih sanregonya," saya hanya bisa melongo, "Jangan-jangan gagang sapu ijuk itu betul-betul kayu sanrego," pikirku. (***)

Minggu, 06 Oktober 2013

Trik Menjaga Keharmonisan Pasangan Suami Istri ala Dr Boyke


Saatnya Menata Gaya, Gejolak, dan Gairah Bercinta
Oleh: Aswad Syam

MASALAH seks pasangan suami istri (pasutri) kerap menjadi salah satu pemicu ketidakharmonisan dalam keluarga. Fenomena ini akan dikupas tuntas pakar seks, Dr Boyke Dian Nugraha dalam seminar nasional "Gaya, Gejolak, Gairah, dan Godaan Wanita Masa Kini" yang digelar Wish, FAJAR, dan SP FM di Ball Room Makassar Golden Hotel, Minggu, 16 Januari 2011.

Boyke menyebut seks sebagai instink. Namun, bukan berarti seks tidak dapat dipelajari atau dilatih dan dikendalikan. Pasangan yang mampu melatih dan mengendalikan gairah seksnya melalui seni bercinta dan penjagaan kondisi fisik dengan baik, akan mampu pula menjaga keharmonisan rumah tangganya.

Ginekolog dan Konsultan Seks, Dr H Boyke Dian Nugraha, SpOG, MARS mengungkapkan, manusia bukan mesin, namun berbagai penelitian mengungkapkan kekuatan seks bersumber pada otak manusia, bukan pada ukuran-ukuran alat kelamin ataupun ukuran fisik lainnya.

Untuk itu, melalui otak ingatan-ingatan seseorang akan disalurkan ke bagian-bagian tubuh lainnya, sehingga hasil yang diperoleh ditentukan oleh ingatan sendiri. Adanya rongrongan dalam ingatan, baik berupa stres fisik (kelelahan) maupun stres psikis (kecemasan) akan mengganggu potensi seks seseorang.

Boyke memaparkan empat langkah untuk sukses dalam menjaga potensi seks. Pertama, penjagaan kesehatan tubuh. Langkah ini melalui makanan, latihan (olahraga) dan istirahat. Ketiga hal tersebut sangat menentukan dalam mendapatkan potensi seks yang prima.

Kedua, mendapatkan gairah seks. Langkah ini mendapatkan keinginan untuk bercinta. Tubuh yang letih, rutinitas dalam seks seringkali membuat seorang pria atau wanita kehilangan nafsu bercinta. Melalui latihan-latihan tertentu, keinginan untuk bercinta tetap terpelihara dengan baik.

Langkah selanjutnya, kata Boyke adalah sugesti diri dan fantasi seks. Penggunaan imajinasi dalam bercinta, kata mantan kepala Puskesmas di Masamba Luwu Utara ini, merupakan faktor yang sangat penting dalam menjaga potensi seks.

"Ingat, fantasi bermula di otak, oleh karena itu fantasi seks merupakan kekuatan yang tidak pernah hilang selama seseorang manusia mampu berfantasi. Bagi para pria, melalui proses sugesti, ereksi dapat diperintah sehingga hubungan seks dapat berlangsung lebih lama dan lebih memuaskan pasangan," jelasnya.

Langkah terakhir adalah menambah teknik dan variasi dalam berhubungan seks. Pengenalan daerah erotis, pandangan, pendengaran, sentuhan, ciuman dan rayuan dapat lebih memuaskan pasangan.
Potensi seks yang prima, beber Boyke, berawal dari kesehatan tubuh yang prima pula. Hanya dari tubuh yang sehat muncul seks yang sehat. Dan tubuh yang sehat amat bergantung pada kesehatan fisik, mental dan sosial.

"Cobalah Anda berdiri di depan cermin dan menilai, apakah Anda sehat? Mulailah penilaian itu dilakukan dari ujung rambut sampai ujung kaki," ujarnya.

Banyak orang, kata Boyke, tidak peduli terhadap bentuk fisik, sehingga mereka tak pernah berpikir lagi untuk memakan makanan yang mereka sendiri suka. Akibatnya, tubuh menjadi gemuk, kolestrol tinggi, terkena penyakit darah tinggi atau gula, lalu kehidupan seks menjadi hambar akibat rongrongan penyakit.

"Makanya, harus diperhatikan bahwa makanan merupakan hal yang penting dalam menjaga potensi seks. Dari segi fisik dan pembawaan diri, yang periang dan senang bergaul merupakan upaya menjaga potensi seks dari sisi mental dan sosial," ucapnya.

Penelitian, lanjut dia, mengungkapkan bahwa para pria dan wanita yang cukup makan makanan bergizi, berjiwa periang dan mampu beradaptasi dengan lingkungannya, secara umum mampu menjaga potensi seksnya sampai usia lanjut. Sebaliknya orang yang selalu tegang jiwanya, kemampuan seksnya pun menurun, bahkan menghentikan kegiatan seksnya saat mereka mencapai usia lanjut.
"Untuk itu, agar potensi seks tetap prima, kenalilah tubuh Anda. Kenalilah makanan Anda," paparnya.

Tubuh terdiri atas otot, persyarafan dan sistem peredaran darah. Otot-otot itu berhubungan dan terkoordinasi satu dan yang lain melalui sistem persyarafan yang rumit. Otot-otot tersebut saat dibutuhkan bekerja dengan sempurna dan istirahat di kala kita tidur.

Saat gairah seks bangkit, sistem persyarafan bekerja kembali, sehingga tugas dari sistem persyarafan menjadi semakin berat lagi karena harus menanggung beban pekerjaan sehari-hari yang umumnya penuh dengan berbagai masalah kehidupan. Oleh karena itu otak dan sistem persyarafan butuh ketenangan dan penyegaran. Di samping tidur yang cukup, rekreasi, serta relaksasi otot-otot akan sangat membantu menyegarkan pikiran.

Untuk menjaga agar sistem otot, persyarafan dan peredaran darah tidak bekerja berlipat ganda, Boyke menyarankan untuk menghindari hubungan seks pada saat sesudah makan kenyang, sesudah merokok atau minum minuman keras. "Jangan lupa mandi sebelum dan sesudah persetubuhan agar membawa kesegaran tersendiri bagi Anda," tuturnya.

Boyke menyebut dua penyebab utama hilangnya gairah seks, yaitu keletihan dan kecemasan. Menurutnya, bagaimana pun juga seseorang tidak dapat melakukan hubungan seks jika keadaan tubuh dan pikiran sedang terganggu.

Jika keletihan dan kecemasan tidak segera diperbaiki, maka makin lama potensi seks seseorang akan menurun bahkan hilang. Hal ini disebabkan sistem persyarafan dan otot-otot yang dipergunakan untuk hubungan seks menjadi mengendur.

Untuk mengatasi hal ini diperlukan berbagai latihan dan istirahat.
Untuk itu, Boyke mengungkapkan latihan dasar meningkatkan potensi seks. Antara lain, bangun tidur (push up) dapat menambah kekuatan otot bahu dan dada sehingga dapat menjaga keseimbangan tubuh saat melakukan hubungan seks.

Berikutnya, melatih otot paha yang berhubungan otot alat kelamin. "Caranya, duduk lalu gulirkan bola pada masing-masing paha. Lakukanlah teratur diselingi napas yang dalam," urai Boyke.
Selanjutnya, latihan pinggang dan pinggul. Pengendalian pinggul sangat penting, terutama bagi pria dengan posisi di atas dan juga dapat membantu orgasme bagi wanita.

"Caranya, Anda telentang di lantai, peganglah permukaan pinggul lalu angkatlah kaki depan ke atas sampai hampir lurus, lakukanlah dengan teratur," ujarnya.

Boyke juga memaparkan latihan mempertahankan potensi seks dengan memperpanjang kemampuan orgasme. Menurutnya, orgasme mempunyai kemiripan seperti mengeluarkan air seni, sehingga dapat dilatih.

Seperti halnya pengeluaran air seni yang dapat ditahan, maka orgasmepun dapat ditahan (diperpanjang). Caranya, saat penis berada dalam vagina, gerakan persetubuhan dapat diperlambat, dan penis jangan terlalu masuk ke dalam vagina. Dengan latihan seperti tadi, otot-otot menjadi terbiasa dan dikendalikan oleh konsentrasi otak.

"Gerakan pinggul untuk orgasme, angkatlah pinggul Anda, gerakkan ke kiri dan ke kanan secukupnya. Hal ini dilakukan saat penis berada dalam vagina, sehingga penis dapat merangsang klitoris yang membawa wanita mencapai orgasme," bebernya.

Istirahat, lanjut Boyke, juga harus teratur. Menggunakan otot-otot yang sering berhubungan dengan alat kelamin, janganlah terlalu sering. Oleh karena itu hubungan seks sebaiknya dilakukan dengan teratur dan terjadwal.

Berdasarkan penelitian, seorang pria mengeluarkan 200 juta lebih sperma saat ejakulasi, sementara produksi sperma per hari adalah 75 juta. Makanya, hubungan seks tiga hari sekali merupakan kebiasaan yang baik. Dengan 1-2 kali seminggu, diharapkan otot-otot alat kelamin cukup beristirahat dan kantung spermapun telah penuh, secara alami membutuhkan pengeluaran.

Di samping itu, tidur yang cukup serta rekreasi mempunyai peranan yang penting dalam menjaga potensi seks. Rekreasi meliputi pula proses relaksasi otot-otot, di mana sebelum tidur cobalah kosongkan pikiran dan biarkan otot-otot berelaksasi. Lakukan hal ini dengan teratur, niscaya hasilnya akan menakjubkan.

Setelah tubuh mencapai relaksasi dan irama napas menjadi teratur, Boyke menyarankan melakukanlah sugesti diri. "Yakinkanlah diri Anda bahwa Anda sanggup melakukan hubungan seks yang memuaskan. Lakukanlah penarikan napas secara dalam sambil berbicara pada diri sendiri, misalnya 'saya mempunyai segala sesuatu untuk memuaskan pria (wanita)', atau 'setiap pengalaman seks akan lebih baik dari pada yang terakhir', atau 'saya dapat menjaga ereksi selama persetubuhan’. Selanjutnya imajinasi Anda diperlukan agar potensi seks tetap terjaga," bebernya panjang lebar.

Albert Einstein mengungkapkan bahwa imajinasi lebih kuat dari pada ilmu pengetahuan. Hal inipun dapat diterapkan saat anda melakukan hubungan seks, sehingga kepuasan seks sangat tergantung kepada kepandaian anda berimajinasi. Imajinasikanlah situasi seks yang dapat anda kontrol sebaik mungkin.

Pandanglah segala sesuatu sampai hal yang detail, lalu lihatlah pasangan anda: wajahnya, tubuhnya lalu pandanglah diri anda sendiri dengan jelas, raut muka anda. Ulangi tindakan tadi. Pandanglah sekali lagi raut muka pasangan anda lalu raut muka anda sendiri. Ciptakanlah hubungan seks itu dengan perlahan-lahan. Latihan ini harus dilakukan berkali-kali sampai menghasilkan hubungan seks yang memuaskan bagi kedua belah pihak.

Untuk menambah gairah dalam berhubungan seks dan menghindarkan kejenuhan, lanjut Boyke, diperlukan berbagai posisi dan variasi dalam berhubungan seks. Adapun posisi yang lazim dilakukan pasangan suami isteri adalah, (1) Posisi Wanita berbaring terlentang, pria di atas, (2) Posisi Pria berbaring terlentang dan wanita di atas, (3) Posisi Wanita dalam posisi lutut siku, pria dari belakang, (4) Posisi Berdiri, (5) Posisi Menyamping, (6) Posisi Duduk,

"Keenam posisi dasar ini bisa dikembangkan menjadi berbagai posisi lagi, misalnya pada posisi pertama kaki si wanita bisa diangkat, pinggul wanita bisa diganjal bantal, dsb, sehingga diperoleh posisi yang sama-sama menyenangkan kedua pasangan," ungkapnya. Adapun variasi seks yang masih dianggap normal adalah, (1) Manipulasi klitoris dengan jari, (2) Manipulasi urogenital, (3) Permainan mulut dengan alat kelamin yang dikenal dengan felasio dan kunilingus yang jika serentak dilakukan diperoleh posisi 69. (3) Masturbasi

Pemuasan diri sendiri tanpa koitus. "Biasanya dilakukan dengan tangan atau alat lainnya. Biasanya dilakukan oleh muda-mudi atau oleh orang dewasa dalam keadaan tertentu (jauh dari isteri, melepas ketegangan, dll," tutupnya. (*)

Selasa, 24 September 2013

Jatuh Bangun Saudagar Bugis

Jatuh bangun menghidupkan bisnis tak membuat mereka menyerah. Semangat wirausaha dengan nilai-nilai filosofi Bugis Makassar memberi semangat hingga menjadi pengusaha sukses.

Laporan:
ASWAD SYAM
Makassar

MERANTAU ke kota yang jauh dari tanah kelahirannya menjadi keputusan bulat Mangkana kecil yang saat itu masih berusia 11 tahun. Kota Samarinda menjadi pilihan anak laki-laki itu untuk keluar dari ekonomi yang sangat sulit di Wajo sekitar tahun 1970.

Getirnya kehidupan di tanah rantauan harus dirasakan Mangkana yang telah ditinggal mati orangtuanya. Usaha kecil-kecilan dirintisnya dengan modal Rp 50 ribu hasil menjual sarung orangtuanya.

Dia memilih usaha asongan dengan jualan rokok per batang untuk tetap melanjutkan hidup. Ketika malam tiba, bapak lima anak itu menjual jagung rebus untuk menambah penghasilan. Kehidupan serba sulit saat itu. "Makan hanya nasi tumbuk dicampur kelapa," kenangnya.

Usaha yang lebih baik mulai dirintisnya sekitar 1975 bersama adik-adiknya dengan berdagang hasil bumi dari Mamuju ke Samarinda. Namun, bisnis ini juga tak berjalan mulus dan membuatnya lagi-lagi harus jatuh bangun. Dia terpaksa bekerja serabutan dan menjadi buruh agar asap dapur tetap mengepul.

Setahun kemudian, salah seorang temannya dari Kota Solo memberinya kepercayaan mengelola usaha. Dana Rp 500 ribu diperoleh dan dijadikan modal usaha. Manajemen usaha yang kurang baik membuat usaha ambruk lagi.

Karakter masyarakat Bugis-Makassar yang keras dalam dirinya membuatnya tak mau bertekuk lutut dan menyerah pada keadaan. "Tahun 1978 saya membawa dagangan berupa udang kecil atau ebi ke Cirebon," kata Mangkana mengurai kenangan masa lampaunya di arena Pertemuan Saudagar Bugis Makassar, Kamis, 16 September.

Cirebon disangkanya sebuah kota besar dan daratan yang sangat luas dengan iklim berusaha yang lebih kondusif. Ternyata, kota yang dijumpainya jauh dari harapannya. Dagangan yang dibawanya pun tak laku, sehingga harus menanggung kerugian.

Namun itu tak membuatnya patah arang dan berhenti bangkit dari keterpurukan. Mangkana juga beruntung, karena orang-orang di sekitarnya terus memberi motivasi dan memberinya pelajaran siapa saja yang dapat menjadi mitra bisnisnya.

Bermodalkan dana pinjaman dari bank, sekitar tahun 2000 dia membangun perusahaan dan bermitra dengan empat kawannya dari Sulsel. Manajemen usaha yang kurang baik, membuat pergerakan usaha kurang maksimal.

Keinginannya yang kuat untuk maju dengan sedikit modal nekat, Mangkana menuju Jepang mencari pasar untuk usaha ekspor udangnya. Dia hanya ditemani penerjemah sekaligus membantunya melobi pengusaha di Jepang.

"Saya harus membawa penerjemah. Jangankan bahasa Inggris atau Jepang, bahasa Indonesia saja tidak lancar. Sekolah dasar tidak tamat. Hanya sampai kelas tiga SD," ujar Mangkana yang memegang cangkir kopi sambil tertawa.

Upayanya mencoba menembus pasar ekspor udang ke Jepang tak sia-sia. Dia berhasil mendapatkan pembeli tetap. Setelah kembali ke Samarinda, Mangkana berpikir sulit maju dengan pesat bila hanya mengandalkan kemampuan diri sendiri.

Dia lalu memilih bermitra dengan pengusaha Taiwan sekaligus "mencuri" ilmu manajemen bisnisnya. Usaha ekspor udang yang sudah merambah Eropa dan Kanada itu kini telah berkembang pesat dengan pasar terbesar di Jepang.

Produksi ekspor udang jenis Black Tiger, Black Tin, dan White kini rata-rata 200 ton per bulan. Karyawan yang dipekerjakan di perusahaannya sebanyak 1000 orang dengan binaan hingga 3000 orang.

Kepercayaan pasar diperolehnya dengan mengembangkan sistem integrasi. Produksi udang ditekuninya mulai dari pembibitan, tambak, dan pembiakan, hingga pengepakan ekspor. "Ini untuk menjamin mutu," katanya.

Penghasilannya per bulan dengan produksi 200 ton sedikitnya USD 3 juta. Hasil usahanya itu pula yang digunakannya untuk berinvestasi pada pendidikan anak-anaknya. Hasilnya luar biasa. Meskipun tak tamat SD, tetapi dua anaknya alumni perguruan tinggi luar negeri.

Anak keduanya alumni perguruan tinggi di Australia jurusan manajemen dan anak ketiganya jurusan bahasa di New Zealand. Putri keempatnya mengambil Fakultas Kedokteran di Universitas Hang Tuah.

Keberhasilan demi keberhasilan yang terus datang tak membuatnya lupa diri. Sosoknya tetap bersahaja. Sepintas lalu, dari penampilannya yang mengenakan batik berwarna hijau, kemarin, sulit menebaknya sebagai pengusaha sukses dengan ribuan karyawan. Penampilannya tidak parlente khas pengusaha kantoran.

"Istri juga tetap satu. Anak sudah lima. Kalau ditanya tentang zakat, sesuai ajaran Islam, kami mengeluarkan 2,5 persen dari harta. Kami menyalurkannya secara door to door kepada orang yang benar-benar membutuhkannya," tuturnya.

Kisah yang sama dialami Lukman Ladjoni.

Pengusaha kapal yang berdomisili di Surabaya ini juga tak kalah pahitnya menempuh perjalanan hidupnya hingga sukses seperti sekarang.
Pria kelahiran Parepare 15 April 1962 ini meninggalkan kampung halamannya (Parepare) saat berusia 4 tahun. Saat itu ibunya menyusul sang ayah yang terlebih dahulu ada di Surabaya.

Ayah Lukman Ladjoni mengelola bisnis angkutan darat, namun mengalami kebangkrutan pada 1973. Saat itu Lukman masih duduk di bangku SD. Pada saat Ladjoni duduk di bangku kelas dua SMA, ayahnya meninggal.

Ladjoni terpaksa bekerja untuk membantu membiayai kebutuhan sekolah dua adiknya serta mengasapi dapur keluarganya. "Waktu itu, saya bekerja sebagai penghitung barang di pelabuhan," ungkapnya.

Bekerja di kawasan pelabuhan Surabaya, membuat Ladjoni memiliki banyak kenalan. Pada 1980-an, Ladjoni membuat usaha ekspedisi "kaki lima" dengan kantor di atas motor. "Hanya berbekal surat-surat, saya datang ke pelabuhan dan transaksi dilakukan di atas motor selesai," ujarnya.

Pada 1988, ayah Annisa Al A'raf , Ramdani Qodri Akbar, Qolbiah Aini, dan Fatimah Rahmatullah ini, kemudian membuat badan usaha bongkar muat dengan nama CV Bakti Keluarga. Nama tersebut, kata dia, diambil dari landasan dia berusaha karena rasa baktinya kepada keluarga.
 
Dalam menjalankan usahanya, Ladjoni senantiasa berpatokan pada pesan ayahnya, yakni orang Bugis di mana-mana menjadi pionir dengan dua hal, "taro ada taro gau" (satu kata dan perbuatan), juga "resopa temmangingngi malomo naletei pammase dewata" (hanya kerja keras disertai doa yang akan diberkahi oleh Tuhan). "Dua pesan itulah yang menjadi spirit saya dalam bekerja," ungkapnya.

Pada 1997, Ladjoni mendirikan perusahaan pelayaran bernama "CV Surya Bintang Timur". Awalnya, Ladjoni hanya menyewa kapal, namun pada 2002 dirinya berhasil membeli satu kapal. "Sekarang saya sudah memiliki lima kapal kargo, dan dua kapal perintis," kisahnya.

Selain perusahaan pelayaran, Ladjoni juga memiliki usaha kapal keruk di Surabaya bernama PT Surya Telaga Luhur. Selain itu, Ladjoni juga memiliki perusahaan konstruksi bernama PT Pilaren yang didirikan pada 2001. Perusahaan konstruksi tersebut, lanjut suami Hj Kasmawati Palureng ini, khusus menangani pembangunan bandara.

Ladjoni saat ini juga diminta beberapa masyarakat Parepare untuk mencalonkan diri sebagai walikota. Menurut Ladjoni dirinya siap jika masyarakat menghendaki. Menurutnya, dia punya obsesi untuk menjadikan Parepare sebagai Singapura mini.

"Saya tidak ambisius, tapi kalau masyarakat menghendaki saya siap. Yang jelas, karakter kepemimpinan pengusaha sudah teruji pada diri JK, antara lain tidak pernah ragu-ragu dalam mengambil keputusan," pungkasnya. (*)

Bissu, Bukan Sembarang Waria

BADANNYA memang kekar, namun, langkah dan gerak-geriknya lemah-gemulai bak wanita. Itulah bissu. Namun, jangan sekali-kali menyebut dan memanggil mereka waria, mereka tidak suka, bisa-bisa Anda akan dilempari dengan sandal. Begitulah peringatan seorang teman yang mengerti betul soal bissu.

LAPORAN: ASWAD SYAM

ANGEL membenahi peralatan pengantinnya saat saya bertandang ke kediamannya di Jl Pisang, Kelurahan Macege, Tanete Riattang Barat, Bone, awal September 2007 lalu. Maklum, waria yang memiliki nama asli Syamsul Bahri ini, di samping sebagai bissu, juga berprofesi sebagai "wedding organizer" di Bone. Tidak sedikit pasangan pengantin yang menggunakan jasanya untuk didandani agar kelihatan cantik saat duduk di pelaminan.

Bissu umumnya memiliki pengetahuan soal mantra pemikat, seperti, "naga sikoi" dan "cenning rara". Angel merupakan satu-satunya di Bone yang sudah menjalani prosesi dan ritual untuk menjadi bissu. Menurutnya, seorang bissu bukanlah waria sembarangan. Secara fisik dan gerak-gerik kata dia, bissu memang mirip dengan waria lainnya.

Namun dari sisi perilaku, mereka sangatlah berbeda. Untuk menjadi bissu kata Angel, tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Butuh proses yang panjang, dan harus betul-betul panggilan nurani, juga seorang waria harus siap meninggalkan perbuatan-perbuatan maksiat. Agar mental itu betul-betul siap, seorang waria diharuskan magang di bissu-bissu tua yang digelari Puang Matoa atau Puang Lolo.

Setelah mentalnya siap menjadi bissu lanjut Angel, barulah dia menjalani prosesi Irebba (dibaringkan), yang dilakukan di loteng bagian depan pada Rumah Arajang. Waria yang akan dilantik menjadi bissu kata Angel, diwajibkan berpuasa selama sepekan hingga 40 hari. Setelah itu, bernazar (mattinja') untuk menjalani irebba selama beberapa hari, biasanya tiga atau tujuh hari. Lalu dia dimandikan, dikafani, dan dibaringkan selama hari yang dinazarkan. Di atasnya digantung sebuah guci berisi air.

Selama disemayamkan sesuai nazarnya, calon bissu dianggap dan diperlakukan sebagai orang mati. Pada hari yang dinazarkan, guci dipecahkan hingga airnya menyirami waria yang sedang irebba. Setelah melewati ritual sakral itu, seorang waria resmi menjadi bissu. Sejak itu, seorang bissu tampil anggun (malebbi) dan senantiasa berlaku sopan.

"Saat itu juga, bissu yang baru menyelesaikan prosesi irebba, akan mendapatkan nama langit," ungkap Angel yang memiliki nama langit Sessung Riu'.

Bissu adalah sebutan bagi pemimpin ritual agama Bugis kuno, sebelum pengaruh Islam masuk. Bissu, berasal dari kata Bessi, yang dalam bahasa Bugis memiliki arti bersih.

Pada masa kerajaan Bone, Bissu menempati posisi terhormat di dalam masyarakat Bugis. Sebagai penasihat spiritual kerajaan, seorang Bissu bukanlah orang sembarangan. Setelah resmi menyandang gelar Bissu, seseorang mulai belajar. Di antaranya mempelajari berbagai mantera, serta harus menguasai 40 cara melipat daun sirih (rekko' ota patappulo). Juga harus menguasai "memmang" (bahasa dewata), karena sebagai penasihat spiritual kerajaan, bissu bertugas menghubungkan alam manusia dengan alam dewata.

Sejatinya, lanjut Angel, walaupun Bissu ini adalah lelaki yang memiliki figur feminin, namun tidak boleh identik dengan perempuan. Sehingga unsur lelaki harus tetap ada, seperti memelihara janggut. Anting tetap boleh dipakai, namun ketika melakukan upacara ritual, anting itu harus dilepas. (*)