Selasa, 24 September 2013

Jatuh Bangun Saudagar Bugis

Jatuh bangun menghidupkan bisnis tak membuat mereka menyerah. Semangat wirausaha dengan nilai-nilai filosofi Bugis Makassar memberi semangat hingga menjadi pengusaha sukses.

Laporan:
ASWAD SYAM
Makassar

MERANTAU ke kota yang jauh dari tanah kelahirannya menjadi keputusan bulat Mangkana kecil yang saat itu masih berusia 11 tahun. Kota Samarinda menjadi pilihan anak laki-laki itu untuk keluar dari ekonomi yang sangat sulit di Wajo sekitar tahun 1970.

Getirnya kehidupan di tanah rantauan harus dirasakan Mangkana yang telah ditinggal mati orangtuanya. Usaha kecil-kecilan dirintisnya dengan modal Rp 50 ribu hasil menjual sarung orangtuanya.

Dia memilih usaha asongan dengan jualan rokok per batang untuk tetap melanjutkan hidup. Ketika malam tiba, bapak lima anak itu menjual jagung rebus untuk menambah penghasilan. Kehidupan serba sulit saat itu. "Makan hanya nasi tumbuk dicampur kelapa," kenangnya.

Usaha yang lebih baik mulai dirintisnya sekitar 1975 bersama adik-adiknya dengan berdagang hasil bumi dari Mamuju ke Samarinda. Namun, bisnis ini juga tak berjalan mulus dan membuatnya lagi-lagi harus jatuh bangun. Dia terpaksa bekerja serabutan dan menjadi buruh agar asap dapur tetap mengepul.

Setahun kemudian, salah seorang temannya dari Kota Solo memberinya kepercayaan mengelola usaha. Dana Rp 500 ribu diperoleh dan dijadikan modal usaha. Manajemen usaha yang kurang baik membuat usaha ambruk lagi.

Karakter masyarakat Bugis-Makassar yang keras dalam dirinya membuatnya tak mau bertekuk lutut dan menyerah pada keadaan. "Tahun 1978 saya membawa dagangan berupa udang kecil atau ebi ke Cirebon," kata Mangkana mengurai kenangan masa lampaunya di arena Pertemuan Saudagar Bugis Makassar, Kamis, 16 September.

Cirebon disangkanya sebuah kota besar dan daratan yang sangat luas dengan iklim berusaha yang lebih kondusif. Ternyata, kota yang dijumpainya jauh dari harapannya. Dagangan yang dibawanya pun tak laku, sehingga harus menanggung kerugian.

Namun itu tak membuatnya patah arang dan berhenti bangkit dari keterpurukan. Mangkana juga beruntung, karena orang-orang di sekitarnya terus memberi motivasi dan memberinya pelajaran siapa saja yang dapat menjadi mitra bisnisnya.

Bermodalkan dana pinjaman dari bank, sekitar tahun 2000 dia membangun perusahaan dan bermitra dengan empat kawannya dari Sulsel. Manajemen usaha yang kurang baik, membuat pergerakan usaha kurang maksimal.

Keinginannya yang kuat untuk maju dengan sedikit modal nekat, Mangkana menuju Jepang mencari pasar untuk usaha ekspor udangnya. Dia hanya ditemani penerjemah sekaligus membantunya melobi pengusaha di Jepang.

"Saya harus membawa penerjemah. Jangankan bahasa Inggris atau Jepang, bahasa Indonesia saja tidak lancar. Sekolah dasar tidak tamat. Hanya sampai kelas tiga SD," ujar Mangkana yang memegang cangkir kopi sambil tertawa.

Upayanya mencoba menembus pasar ekspor udang ke Jepang tak sia-sia. Dia berhasil mendapatkan pembeli tetap. Setelah kembali ke Samarinda, Mangkana berpikir sulit maju dengan pesat bila hanya mengandalkan kemampuan diri sendiri.

Dia lalu memilih bermitra dengan pengusaha Taiwan sekaligus "mencuri" ilmu manajemen bisnisnya. Usaha ekspor udang yang sudah merambah Eropa dan Kanada itu kini telah berkembang pesat dengan pasar terbesar di Jepang.

Produksi ekspor udang jenis Black Tiger, Black Tin, dan White kini rata-rata 200 ton per bulan. Karyawan yang dipekerjakan di perusahaannya sebanyak 1000 orang dengan binaan hingga 3000 orang.

Kepercayaan pasar diperolehnya dengan mengembangkan sistem integrasi. Produksi udang ditekuninya mulai dari pembibitan, tambak, dan pembiakan, hingga pengepakan ekspor. "Ini untuk menjamin mutu," katanya.

Penghasilannya per bulan dengan produksi 200 ton sedikitnya USD 3 juta. Hasil usahanya itu pula yang digunakannya untuk berinvestasi pada pendidikan anak-anaknya. Hasilnya luar biasa. Meskipun tak tamat SD, tetapi dua anaknya alumni perguruan tinggi luar negeri.

Anak keduanya alumni perguruan tinggi di Australia jurusan manajemen dan anak ketiganya jurusan bahasa di New Zealand. Putri keempatnya mengambil Fakultas Kedokteran di Universitas Hang Tuah.

Keberhasilan demi keberhasilan yang terus datang tak membuatnya lupa diri. Sosoknya tetap bersahaja. Sepintas lalu, dari penampilannya yang mengenakan batik berwarna hijau, kemarin, sulit menebaknya sebagai pengusaha sukses dengan ribuan karyawan. Penampilannya tidak parlente khas pengusaha kantoran.

"Istri juga tetap satu. Anak sudah lima. Kalau ditanya tentang zakat, sesuai ajaran Islam, kami mengeluarkan 2,5 persen dari harta. Kami menyalurkannya secara door to door kepada orang yang benar-benar membutuhkannya," tuturnya.

Kisah yang sama dialami Lukman Ladjoni.

Pengusaha kapal yang berdomisili di Surabaya ini juga tak kalah pahitnya menempuh perjalanan hidupnya hingga sukses seperti sekarang.
Pria kelahiran Parepare 15 April 1962 ini meninggalkan kampung halamannya (Parepare) saat berusia 4 tahun. Saat itu ibunya menyusul sang ayah yang terlebih dahulu ada di Surabaya.

Ayah Lukman Ladjoni mengelola bisnis angkutan darat, namun mengalami kebangkrutan pada 1973. Saat itu Lukman masih duduk di bangku SD. Pada saat Ladjoni duduk di bangku kelas dua SMA, ayahnya meninggal.

Ladjoni terpaksa bekerja untuk membantu membiayai kebutuhan sekolah dua adiknya serta mengasapi dapur keluarganya. "Waktu itu, saya bekerja sebagai penghitung barang di pelabuhan," ungkapnya.

Bekerja di kawasan pelabuhan Surabaya, membuat Ladjoni memiliki banyak kenalan. Pada 1980-an, Ladjoni membuat usaha ekspedisi "kaki lima" dengan kantor di atas motor. "Hanya berbekal surat-surat, saya datang ke pelabuhan dan transaksi dilakukan di atas motor selesai," ujarnya.

Pada 1988, ayah Annisa Al A'raf , Ramdani Qodri Akbar, Qolbiah Aini, dan Fatimah Rahmatullah ini, kemudian membuat badan usaha bongkar muat dengan nama CV Bakti Keluarga. Nama tersebut, kata dia, diambil dari landasan dia berusaha karena rasa baktinya kepada keluarga.
 
Dalam menjalankan usahanya, Ladjoni senantiasa berpatokan pada pesan ayahnya, yakni orang Bugis di mana-mana menjadi pionir dengan dua hal, "taro ada taro gau" (satu kata dan perbuatan), juga "resopa temmangingngi malomo naletei pammase dewata" (hanya kerja keras disertai doa yang akan diberkahi oleh Tuhan). "Dua pesan itulah yang menjadi spirit saya dalam bekerja," ungkapnya.

Pada 1997, Ladjoni mendirikan perusahaan pelayaran bernama "CV Surya Bintang Timur". Awalnya, Ladjoni hanya menyewa kapal, namun pada 2002 dirinya berhasil membeli satu kapal. "Sekarang saya sudah memiliki lima kapal kargo, dan dua kapal perintis," kisahnya.

Selain perusahaan pelayaran, Ladjoni juga memiliki usaha kapal keruk di Surabaya bernama PT Surya Telaga Luhur. Selain itu, Ladjoni juga memiliki perusahaan konstruksi bernama PT Pilaren yang didirikan pada 2001. Perusahaan konstruksi tersebut, lanjut suami Hj Kasmawati Palureng ini, khusus menangani pembangunan bandara.

Ladjoni saat ini juga diminta beberapa masyarakat Parepare untuk mencalonkan diri sebagai walikota. Menurut Ladjoni dirinya siap jika masyarakat menghendaki. Menurutnya, dia punya obsesi untuk menjadikan Parepare sebagai Singapura mini.

"Saya tidak ambisius, tapi kalau masyarakat menghendaki saya siap. Yang jelas, karakter kepemimpinan pengusaha sudah teruji pada diri JK, antara lain tidak pernah ragu-ragu dalam mengambil keputusan," pungkasnya. (*)

Bissu, Bukan Sembarang Waria

BADANNYA memang kekar, namun, langkah dan gerak-geriknya lemah-gemulai bak wanita. Itulah bissu. Namun, jangan sekali-kali menyebut dan memanggil mereka waria, mereka tidak suka, bisa-bisa Anda akan dilempari dengan sandal. Begitulah peringatan seorang teman yang mengerti betul soal bissu.

LAPORAN: ASWAD SYAM

ANGEL membenahi peralatan pengantinnya saat saya bertandang ke kediamannya di Jl Pisang, Kelurahan Macege, Tanete Riattang Barat, Bone, awal September 2007 lalu. Maklum, waria yang memiliki nama asli Syamsul Bahri ini, di samping sebagai bissu, juga berprofesi sebagai "wedding organizer" di Bone. Tidak sedikit pasangan pengantin yang menggunakan jasanya untuk didandani agar kelihatan cantik saat duduk di pelaminan.

Bissu umumnya memiliki pengetahuan soal mantra pemikat, seperti, "naga sikoi" dan "cenning rara". Angel merupakan satu-satunya di Bone yang sudah menjalani prosesi dan ritual untuk menjadi bissu. Menurutnya, seorang bissu bukanlah waria sembarangan. Secara fisik dan gerak-gerik kata dia, bissu memang mirip dengan waria lainnya.

Namun dari sisi perilaku, mereka sangatlah berbeda. Untuk menjadi bissu kata Angel, tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Butuh proses yang panjang, dan harus betul-betul panggilan nurani, juga seorang waria harus siap meninggalkan perbuatan-perbuatan maksiat. Agar mental itu betul-betul siap, seorang waria diharuskan magang di bissu-bissu tua yang digelari Puang Matoa atau Puang Lolo.

Setelah mentalnya siap menjadi bissu lanjut Angel, barulah dia menjalani prosesi Irebba (dibaringkan), yang dilakukan di loteng bagian depan pada Rumah Arajang. Waria yang akan dilantik menjadi bissu kata Angel, diwajibkan berpuasa selama sepekan hingga 40 hari. Setelah itu, bernazar (mattinja') untuk menjalani irebba selama beberapa hari, biasanya tiga atau tujuh hari. Lalu dia dimandikan, dikafani, dan dibaringkan selama hari yang dinazarkan. Di atasnya digantung sebuah guci berisi air.

Selama disemayamkan sesuai nazarnya, calon bissu dianggap dan diperlakukan sebagai orang mati. Pada hari yang dinazarkan, guci dipecahkan hingga airnya menyirami waria yang sedang irebba. Setelah melewati ritual sakral itu, seorang waria resmi menjadi bissu. Sejak itu, seorang bissu tampil anggun (malebbi) dan senantiasa berlaku sopan.

"Saat itu juga, bissu yang baru menyelesaikan prosesi irebba, akan mendapatkan nama langit," ungkap Angel yang memiliki nama langit Sessung Riu'.

Bissu adalah sebutan bagi pemimpin ritual agama Bugis kuno, sebelum pengaruh Islam masuk. Bissu, berasal dari kata Bessi, yang dalam bahasa Bugis memiliki arti bersih.

Pada masa kerajaan Bone, Bissu menempati posisi terhormat di dalam masyarakat Bugis. Sebagai penasihat spiritual kerajaan, seorang Bissu bukanlah orang sembarangan. Setelah resmi menyandang gelar Bissu, seseorang mulai belajar. Di antaranya mempelajari berbagai mantera, serta harus menguasai 40 cara melipat daun sirih (rekko' ota patappulo). Juga harus menguasai "memmang" (bahasa dewata), karena sebagai penasihat spiritual kerajaan, bissu bertugas menghubungkan alam manusia dengan alam dewata.

Sejatinya, lanjut Angel, walaupun Bissu ini adalah lelaki yang memiliki figur feminin, namun tidak boleh identik dengan perempuan. Sehingga unsur lelaki harus tetap ada, seperti memelihara janggut. Anting tetap boleh dipakai, namun ketika melakukan upacara ritual, anting itu harus dilepas. (*)