ASWAD SYAM
MALAM itu, saya dan seorang wartawan duduk-duduk di teras kantor FAJAR biro Bone (waktu itu masih di Jl Ahmad Yani). Kantor biro tersebut, bertetangga dengan sebuah wisma.
Di depan wisma, teman melihat dua orang wanita muda sedang duduk. "Aswad, mauko bikin tulisan cindopang? (cindopan adalah sebutan untuk wanita penjaja seks di Bone, red). Dua orang itu cindopang," ujarnya sambil menunjuk dua wanita itu dengan bibirnya.
"Ah, masa? Tahu dari mana?" tanya saya.
"Lihat saja gayanya. Kalau tidak percaya, coba saya dekati na?" ujarnya sambil mendekati kedua wanita itu.
Saya melihat, teman itu mulai melakukan pembicaraan dengan kedua wanita yang masih berumur sekitar 20-an tahun itu. Tidak beberapa lama, dia memberikan kode kepada saya untuk mendekat.
"Mbak, kenalkan. Ini teman saya," kata teman itu memperkenalkan saya.
Kami berjabat tangan. Teman itu terus bertanya, mengorek keterangan dari dua cindopang itu, dan saya menyimaknya untuk bahan tulisan saya. Ternyata cindopang itu datang dari luar Bone.
Setelah lengkap sampai soal tarif, saya kemudian memberi tanda ke teman bahwa bahannya sudah cukup.
Sampai di kantor saya langsung membuat tulisan ficer.
Saya memberi kalimat penutup dalam ficer itu, 'Saat teman saya menanyakan tarif, wanita itu berkata, "cuma lima puluh ribu semalam bang," ujarnya sambil sedikit bermanja kepada teman saya'.
Setelah rampung, saya kemudian mengirim ke kantor melalui server berita ftp.
Seperti biasa, setiap Jumat, selesai mengirimkan berita terakhir, saya meluncur ke Makassar dengan motor. Biasa saya berangkat sekitar jam 5, dan tiba di Makassar sekitar pukul 10 malam.
Saat tiba di rumah, semua penghuni sudah tidur. Saat masuk kamar, istri terus memunggungi, tapi saya tahu dia belum tidur.
"Ada apa ya?" pikirku. "Tidak seperti biasanya, kalau saya datang biar tengah malam pun saya pasti disambut dengan ceria."
Saya menyalakan televisi, di lantai kamar depan televisi, saya melihat sebuah koran terhampar, ya halaman Bone, Soppeng, Wajo. Saya melihat ada tulisan yang dilingkari dengan spidol merah. Perlahan saya membaca 'Saat saya menanyakan tarif, wanita itu berkata, "cuma lima puluh ribu semalam bang," ujarnya sambil sedikit bermanja kepada saya'.
"Waduh, kalau ini masalahnya ni saya bisa jelaskan...di sini ada kata "teman" yang hilang," teriakku.
"Sudahlah...tidurmaki...istirahatmaki," ujar istri saya.
Saya pun berbaring di atas hamparan koran itu. (***)
MALAM itu, saya dan seorang wartawan duduk-duduk di teras kantor FAJAR biro Bone (waktu itu masih di Jl Ahmad Yani). Kantor biro tersebut, bertetangga dengan sebuah wisma.
Di depan wisma, teman melihat dua orang wanita muda sedang duduk. "Aswad, mauko bikin tulisan cindopang? (cindopan adalah sebutan untuk wanita penjaja seks di Bone, red). Dua orang itu cindopang," ujarnya sambil menunjuk dua wanita itu dengan bibirnya.
"Ah, masa? Tahu dari mana?" tanya saya.
"Lihat saja gayanya. Kalau tidak percaya, coba saya dekati na?" ujarnya sambil mendekati kedua wanita itu.
Saya melihat, teman itu mulai melakukan pembicaraan dengan kedua wanita yang masih berumur sekitar 20-an tahun itu. Tidak beberapa lama, dia memberikan kode kepada saya untuk mendekat.
"Mbak, kenalkan. Ini teman saya," kata teman itu memperkenalkan saya.
Kami berjabat tangan. Teman itu terus bertanya, mengorek keterangan dari dua cindopang itu, dan saya menyimaknya untuk bahan tulisan saya. Ternyata cindopang itu datang dari luar Bone.
Setelah lengkap sampai soal tarif, saya kemudian memberi tanda ke teman bahwa bahannya sudah cukup.
Sampai di kantor saya langsung membuat tulisan ficer.
Saya memberi kalimat penutup dalam ficer itu, 'Saat teman saya menanyakan tarif, wanita itu berkata, "cuma lima puluh ribu semalam bang," ujarnya sambil sedikit bermanja kepada teman saya'.
Setelah rampung, saya kemudian mengirim ke kantor melalui server berita ftp.
Seperti biasa, setiap Jumat, selesai mengirimkan berita terakhir, saya meluncur ke Makassar dengan motor. Biasa saya berangkat sekitar jam 5, dan tiba di Makassar sekitar pukul 10 malam.
Saat tiba di rumah, semua penghuni sudah tidur. Saat masuk kamar, istri terus memunggungi, tapi saya tahu dia belum tidur.
"Ada apa ya?" pikirku. "Tidak seperti biasanya, kalau saya datang biar tengah malam pun saya pasti disambut dengan ceria."
Saya menyalakan televisi, di lantai kamar depan televisi, saya melihat sebuah koran terhampar, ya halaman Bone, Soppeng, Wajo. Saya melihat ada tulisan yang dilingkari dengan spidol merah. Perlahan saya membaca 'Saat saya menanyakan tarif, wanita itu berkata, "cuma lima puluh ribu semalam bang," ujarnya sambil sedikit bermanja kepada saya'.
"Waduh, kalau ini masalahnya ni saya bisa jelaskan...di sini ada kata "teman" yang hilang," teriakku.
"Sudahlah...tidurmaki...istirahatmaki," ujar istri saya.
Saya pun berbaring di atas hamparan koran itu. (***)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar