Ada Sesi Foto Usai Striptis
SHINJUKU, sebuah kawasan di Tokyo yang lekat dengan citra kehidupan malam. Di sini, Tokyo memang tak pernah "tidur".
LAPORAN: ASWAD SYAM
Shinjuku, Tokyo
USAI mengunjungi Tokyo Motor Show 2013, Tokyo Sky Tree yang merupakan tower tertinggi di Tokyo, serta menikmati menu makan malam khas Jepang, Morio San dari DMC menawari kami, mengunjungi kehidupan malam di negeri matahari terbit itu. Pilihannya tentu saja Shinjuku.
"Saya sudah membuka situsnya di internet, tidak boleh bawa kamera, tidak boleh memotret pakai hape, tidak boleh ribut, dan tidak boleh menyentuh. Boleh bawa kamera tapi nanti dititip ya," ujar Morio dengan bahasa Indonesia saat kami masih di atas bus. Meski orang Jepang, Morio memang lancar berbahasa Indonesia.
Selain itu lanjut Morio, pengunjung tidak boleh berumur di bawah 18 tahun. "Bagaimana," tanya Morio kepada seluruh rombongan sebelas jurnalis, dan dua pemenang undian ke Jepang yang merupakan pemilik show room dan bengkel Daihatsu. Kami serentak menyanggupi, jadilah sopir bus mengarahkan bus ke arah Shinjuku.
Saat tiba di Shinjuku, Morio memimpin kami turun dari bus dan menuju ke sebuah lorong. Beberapa wanita Jepang berambut pirang berdiri di pinggir jalan dengan senyum dan pandangan sedikit genit. Seorang lelaki tua menawarkan ke teman, "anak asuhnya". "This is cheap sir. Only USD2.000 completed with the room," tawarnya. Teman menggerakkan telapak tangan tanda tak mau. Saat tiba di sebuah ruko paling ujung, Morio masuk. Seorang lelaki bermata sipit mendekati Morio, mereka berbicara dalam bahasa Jepang.
Beberapa saat kemudian, Morio menoleh ke kami dan kembali mengingatkan untuk membawa kamera dan ponsel masuk, tapi jangan dikeluarkan. "Di sini tidak ada tempat penitipan, bawa saja masuk tapi ingat, jangan dikeluarkan," ujarnya menegaskan kembali pesannya.
Setelah meyakinkan, lelaki bermata sipit yang merupakan penjaga bar itu mempersilakan kami masuk. "Kangei, ni kite kudasai (Selamat datang, silakan masuk)," ujarnya.
Menurut Morio, sangat susah masuk ke tempat strip dance (penari telanjang), kalau tidak ada rekomendasi dari orang asli Jepang. Kami kemudian masuk, ternyata ruangannya tidak terlalu luas. Mungkin hanya sekitar 6x10 meter. Sebuah panggung kira-kira setinggi satu meter dengan luas 6x3 meter, dan kursi sofa bersusun layaknya di bioskop. Tapi hanya ada sekitar tiga baris kursi.
Saat kami datang, ternyata sudah selesai satu sesi tarian. Seorang wanita tanpa busana, tampak duduk dengan pose menantang di sisi panggung sebelah kiri penonton, dan beberapa pria antre, ada yang memegang bunga, ada pula yang memegang amplop serta bungkusan kado. Satu persatu, pria itu maju memberikan bingkisan yang dibawa, dan wanita mengganjarnya dengan sebuah pose seksi dari kamera yang mereka sediakan. Gambarpun langsung tercetak. "Arigato Gozaimasta," ujar wanita itu berulang-ulang kepada setiap lelaki yang memotretnya sambil memberi hormat.
Saat usai antrean terakhir, wanita berperawakan langsing dan tinggi itu pun membungkuk ke arah penonton. "Arigato gozaimasta, babay," ujarnya sambil melambaikan tangan.
Untuk masuk ke lokasi pertunjukan striptis, setiap pengunjung harus membayar 5.000 yen. Itu untuk sekali masuk dengan enam penari. (*)
SHINJUKU, sebuah kawasan di Tokyo yang lekat dengan citra kehidupan malam. Di sini, Tokyo memang tak pernah "tidur".
LAPORAN: ASWAD SYAM
Shinjuku, Tokyo
USAI mengunjungi Tokyo Motor Show 2013, Tokyo Sky Tree yang merupakan tower tertinggi di Tokyo, serta menikmati menu makan malam khas Jepang, Morio San dari DMC menawari kami, mengunjungi kehidupan malam di negeri matahari terbit itu. Pilihannya tentu saja Shinjuku.
"Saya sudah membuka situsnya di internet, tidak boleh bawa kamera, tidak boleh memotret pakai hape, tidak boleh ribut, dan tidak boleh menyentuh. Boleh bawa kamera tapi nanti dititip ya," ujar Morio dengan bahasa Indonesia saat kami masih di atas bus. Meski orang Jepang, Morio memang lancar berbahasa Indonesia.
Selain itu lanjut Morio, pengunjung tidak boleh berumur di bawah 18 tahun. "Bagaimana," tanya Morio kepada seluruh rombongan sebelas jurnalis, dan dua pemenang undian ke Jepang yang merupakan pemilik show room dan bengkel Daihatsu. Kami serentak menyanggupi, jadilah sopir bus mengarahkan bus ke arah Shinjuku.
Saat tiba di Shinjuku, Morio memimpin kami turun dari bus dan menuju ke sebuah lorong. Beberapa wanita Jepang berambut pirang berdiri di pinggir jalan dengan senyum dan pandangan sedikit genit. Seorang lelaki tua menawarkan ke teman, "anak asuhnya". "This is cheap sir. Only USD2.000 completed with the room," tawarnya. Teman menggerakkan telapak tangan tanda tak mau. Saat tiba di sebuah ruko paling ujung, Morio masuk. Seorang lelaki bermata sipit mendekati Morio, mereka berbicara dalam bahasa Jepang.
Beberapa saat kemudian, Morio menoleh ke kami dan kembali mengingatkan untuk membawa kamera dan ponsel masuk, tapi jangan dikeluarkan. "Di sini tidak ada tempat penitipan, bawa saja masuk tapi ingat, jangan dikeluarkan," ujarnya menegaskan kembali pesannya.
Setelah meyakinkan, lelaki bermata sipit yang merupakan penjaga bar itu mempersilakan kami masuk. "Kangei, ni kite kudasai (Selamat datang, silakan masuk)," ujarnya.
Menurut Morio, sangat susah masuk ke tempat strip dance (penari telanjang), kalau tidak ada rekomendasi dari orang asli Jepang. Kami kemudian masuk, ternyata ruangannya tidak terlalu luas. Mungkin hanya sekitar 6x10 meter. Sebuah panggung kira-kira setinggi satu meter dengan luas 6x3 meter, dan kursi sofa bersusun layaknya di bioskop. Tapi hanya ada sekitar tiga baris kursi.
Saat kami datang, ternyata sudah selesai satu sesi tarian. Seorang wanita tanpa busana, tampak duduk dengan pose menantang di sisi panggung sebelah kiri penonton, dan beberapa pria antre, ada yang memegang bunga, ada pula yang memegang amplop serta bungkusan kado. Satu persatu, pria itu maju memberikan bingkisan yang dibawa, dan wanita mengganjarnya dengan sebuah pose seksi dari kamera yang mereka sediakan. Gambarpun langsung tercetak. "Arigato Gozaimasta," ujar wanita itu berulang-ulang kepada setiap lelaki yang memotretnya sambil memberi hormat.
Saat usai antrean terakhir, wanita berperawakan langsing dan tinggi itu pun membungkuk ke arah penonton. "Arigato gozaimasta, babay," ujarnya sambil melambaikan tangan.
Untuk masuk ke lokasi pertunjukan striptis, setiap pengunjung harus membayar 5.000 yen. Itu untuk sekali masuk dengan enam penari. (*)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar